MAN KALABAHI

Jl. Imam Bonjol No. 5 Kalabahi – Alor – NTT

PELANGGARAN HAM

Posted by Hadi Kammis pada 14 September 2016


PELANGGARAN HAM

Semua negara di dunia sepakat menyatakan penghormatan terhadap nilai-nilai HAM yang universal melalui berbagai upaya penegakan HAM. Akan tetapi, pelaksanaan penegakkan HAM dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain. Ideologi, kebudayaan dan nilai-nilai khas yang dimiliki suatu bangsa akan mempengaruhi sikap dan perilaku hidup berbangsa. Misalnya di Indonesia, semua perilaku hidup berbangsa diukur dari kepribadian Indonesia yang tentu saja berbeda dari bangsa lain. Bangsa Indonesia dalam proses penegakan HAM tentu saja mengacu pada Pancasila dan UUD 1945 serta peraturan perundang-undangan lainnya.

A. Pengertian Pelanggaran HAM

Pasal 1 Angka (6) UU. No.  39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

B. Bentuk dan klasifikasi Pelanggaran HAM

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pernah mendengar berita tentang kasus pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan kita pun pernah melihat bahkan terlibat dalam kasus pengeroyokan, pelecehan, penghinaan, atau juga diperlakukan tidak adil oleh orang lain.

Pelanggaran HAM yang sering muncul biasanya terjadi dalam dua bentuk, yaitu :

  1. Diskriminasi, yaitu suatu pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang langsung maupun tidak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, jenis kelamin, bahasa, keyakinan dan politik yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik secara individual maupun kolektif dalam semua aspek kehidupan.
  2. Penyiksaan, adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan baik jasmani maupun rohani.

Berdasarkan sifatnya pelanggaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Pelanggaran HAM berat, yaitu pelanggaran HAM yang mengancam nyawa manusia seperti pembunuhan, penganiayaan, perampokan, perbudakan, penyanderaan.

Menurut UU. RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Pelanggaran HAM Berat  dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  • Kejahatan genosida, yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara :
  1. membunuh anggota kelompok;
  2. mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota Kelompok.
  3. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;
  4. tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok;
  5. memindahkan paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
  • Kejahatan kemanusian, yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa :
    1. Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan;
    2. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
    3. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional;
    4. penyiksaan;
    5. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasaan seksual lain yang setara;
    6. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal;
    7. penghilangan orang secara paksa; atau
    8. kejahatan apartheid, yaitu sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh suatu pemerintahan dengan tujuan untuk melindungi hak-hak istimewa dari suatu ras atau bangsa.

Pelanggaran HAM ringan, yaitu pelanggaran HAM yang tidak mengancam keselamatan jiwa manusia, akan tetapi dapat berbahaya jika tidak segera ditanggulangi. Misalnya, kelalaian dalam pemberian pelayanan kesehatan, pencemaran lingkungan yang disengaja dan sebagainya.

Download bahan ajar lengkap disini Pelanggaran-HAM

Posted in PEIDIDIKAN, PKn | Leave a Comment »

Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah

Posted by Hadi Kammis pada 22 April 2016


Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah

Di era digital seperti sekarang, generasi manusia dapat digolongkan ke dalam dua kelompok. Pertama, Digital Immigrant, yaitu kelompok yang sedari lahir tidak ada internet kemudian saat aktif di dalamnya. Kedua, Digital Native, yaitu orang yang sedari lahir sudah ada internet. Persamaan dari kedua kelompok dapat dipahami bahwa mereka akhirnya sama-sama menggunakan internet untuk ‘kebutuhan’ interaksinya di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media informasi yang semakin pesat, pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri. Semisal dapat memanfaatkan era digital ini sebagai media pembelajaran bagi siswa di madrasah dan sekolah, bahkan pesantren. Akses informasi di era digital ini memungkinkan siswa lebih mengetahui informasi terlebih dahulu ketimbang guru. Tentu hal ini tidak akan membuat guru menjadi ketinggalan dibanding siswanya, karena keberadaan guru di kelas dan lingkungan sekolah lebih kepada memfasilitasi siswa untuk belajar.

Dalam ilmu pedagogik, belajar dapat didefinisikan merupakan sebuah perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Tingkah laku di sini bukan hanya berarti kemampuan siswa secara afektif, tetapi juga kemampuan siswa dari sisi kognitif dan psikomotorik. Di titik inilah, guru yang bisa dikatakan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi siswa, yaitu membimbing siswa agar belajar memanfaatkan penggunaan internet ke arah yang lebih positif untuk keperluan belajar di sekolah.

Dengan kata lain, Digital Immigrant ada untuk membelajarkan para Digital Native agar dapat memanfaatkan internet sebagai media meningkatkan kualitas belajar siswa. Dalam hal ini, guru juga dituntut mengikuti perkembangan arus informasi di era digital melalui kanal-kanal media sosial, misalnya. Dalam kanal inilah, siswa dapat diarahkan untuk membentuk kelompok belajar secara berkesinambungan karena kanal media sosial tidak terbatas ruang dan waktu.

Namun demikian, media sosial atau media lain di dunia maya hanyalah alat (instrumen) bukan tujuan. Artinya, alat tidak bisa menggantikan posisi guru. Sebab alat tidak mempunyai sisi humanitas (kemanusiaan). Oleh sebab itu, kehadiran guru secara emosional sangat penting untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaan seorang siswa.

Melalui media pembelajaran digital, tangkal paham radikal

Euforia media sosial yang saat ini hampir pasti dipunyai oleh setiap individu, menuntut guru agar lebih memahamkan kepada siswa akan arti positif media sosial dan hadirnya ribuan portal-portal berita. Apalagi saat ini, tak sedikit yang memanfaatkan internet untuk menumbuhkembangkan paham-paham yang meresahkan di tengah masyarakat. Hal ini penting menjadi perhatian guru, karena selama ini paham-paham tersebut sangat gencar menyasar anak-anak muda usia sekolah.

Keterbukaan dan luasnya informasi publik yang didukung oleh perkembangan teknologi berdampak pada mudahnya aksesibiltas. Dengan kondisi demikian, guru tidak bisa sekadar acuh tak acuh apalagi sangat terkait dengan perkembangan para siswanya. Melihat perkembangan paham radikal yang terus berusaha menyasar anak usia sekolah, guru dan pihak sekolah harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para siswanya. Wahana seperti Rohis (kerohanian Islam) sebagai ekstrakurikuler jangan dibiarkan liar, justru wadah ini harus dimanfaatkan oleh guru untuk menanamkan pemahaman keagamaan yang baik dan benar, menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan tidak menebarkan kebencian.

Pada akhirnya, era digital menyadarkan dunia pendidikan akan arti penting sebuah inovasi yang harus terus menerus dikembangkan. Dunia pendidikan tidak perlu anti terhadap siswa yang saat ini gandrung dengan media sosial. Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi media sosial di era digital ini agar pembelajaran di kelas lebih berkualitas. Lagipula, media pembelajaran yang ramah dan damai dapat dikembangkan melalui perkembangan dunia digital.

Media seperti ini sudah dibuat dan diterapkan oleh The Wahid Institute dengan menciptakan instrumen ‘Negeri Kompak’. Dalam media pembelajaran ini, anak-anak dididik tentang keberagaman Indonesia yang harus ditopang dengan saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan dan kemajemukan. Dalam media ini, anak-anak tertarik karena dikemas secara apik dan menarik dalam bentuk visualisasi aktif. Artinya, tak hanya berupa gambar, tetapi juga berbagai keterangan yang tersemat di dalamnya.

Di era digital seperti sekarang, berbagai media serupa dapat diciptakan guna mengisi dunia digital atau dunia maya dengan pemahaman keagamaan yang baik demi keutuhan bangsa. Jangan membiarkan dunia maya didominasi oleh gambar, video, maupun narasi-narasi ekstrimis, melainkan dunia pendidikan dan masyarakat harus berperan aktif mengisi dunia maya dengan narasi-narasi positif terkait paham keagamaan dan kebangsaan dengan berbagai media. Media-media digital inilah yang dapat dimanfaatkan juga oleh guru. Selain menarik, juga sangat interaktif karena semua siswa mempunyai passion dengan berbagai media sosial dewasa ini.***

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Sumber : http://www.pendidikanislam.id/fikrah/1069/media-pembelajaran-digital-dan-islam-damai-di-sekolah.html

Posted in Artikel | Leave a Comment »

 
%d blogger menyukai ini: