Dr. SUWARDI, M.Pd : JALAN SUKSES MEMBANGUN MUTU MADRASAH


1MAN Kalabahi  – Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan dimaksud tidak sekedar kecerdasan intelektual belaka namun kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual bangsa pun merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, kualitas diri seorang guru merupakan hal utama dalam mewujudkan cita-cita negara. Guru berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas, guru disiplin akan melahirkan generasi disiplin, dan guru cerdas akan melahirkan generasi cerdas. Demikian yang disampaikan Kepala Seksi Kurikulum MA / MAK Dirjen Kementerian Agama RI, Dr. Suwardi, M.Pd dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Managemen Pembelajaran Madrasah Unggul di MAN Kalabahi, Rabu (7/12/2016).

Dr. Suwardi yang didampingi Kepala Seksi Madrasah Kanwil Kementerian Agama Prov. NTT, Drs. Ibrahim Arif-pun menyampaikan bahwa, terdapat tujuh hal yang harus dibangun oleh Madrasah untuk meraih titel Madrasah Unggul, yaitu ; 1) Membangun Visi, 2) Membangun Minset (pola pikir); 3) Membangun sistem; 2

4) Membangun Team Work; 5) Membangun Komitmen; 6) Membangun budaya mutu; dan 7) Membangun jejaring (network). Jika sebuah Madrasah mampu membangun tujuh komponen ini dengan baik maka madrasah tersebeut akan mampu melahirkan generasi bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing dalam era globalisasi saat ini maupun yang akan datang.
Di akhir kegiatan Suwardi menitipkan harapan besar kepada seluruh civitas MAN Kalabahi agar harus mampu membangun tujuh komponen tersebut dengan sungguh-sungguh sehingga terciptalah Madrasah yang mampu melahirkan kader-kader penerus bangsa yang berkualitas.***(Hadi Kammis)

MAN Kalabahi Raih Juara I Lomba Cerdas Cermat Empat Konsesnsus Berbangsa dan Bernegara Indonesia


MAN Kalabahi Raih Juara I Lomba Cerdas Cermat Empat Konsesnsus Berbangsa dan Bernegara Indonesia

0MAN Kalabahi – Utusan MAN Kalabahi, Ainayah Likur, Raine Mukhtar, dan Nabila Ridwan meraih juara 1 lomba cerdas cermat Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesbangpol Kabupaten Alor pada tanggal 14 – 15 Nopember 2016 lalu.

Perlombaan yang bertemakan Empat Konsesnsus Berbangsa dan Bernegara Indonesia ini diikuti oleh 11 perwakilan sekolah tingkat SMA/MA/SMK se kabupaten Alor. Babak penyisihan berakhir dengan menyisakan 4 sekolah yang masuk pada babak final yaitu MAN Kalabahi, SMA Negeri 2 Mola, SMA Santo Yosep dan SMA risten 2 Kalabahi. Dalam babak final MAN Kalabahi meraih nilai 1210 mengungguli SMA Negeri 2 Mola meraih niai 835, SMA Santo Yosep dengan Nilai 550 dan SMA Kristen 2 meraih nilai 450`

Hadiah yang disiapkan oleh panitia penyelenggara berupa Piala tetap dan uang pembinaan sebesar Rp. 6000.000.- untuk juara I, Piala Tetap dan Uang pembinaan sebesar Rp. 4000.000.- untuk juara II dan Piala Tetap serta uang pembinaan sebesar Rp. 2000.000.- untuk juara III.

1Dalam sambutannya koordinator dewan Juri Bapak Josafat Kabbi, M.Pd, menghimbau kepada seluruh peserta dan guru pembimbingnya agar momen perlombaan ini harus dijadikan motivasi oleh para siswa agar lebih giat belajar. Kabbi yang juga pengawas Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Dinas Pendidikan Kab. Alor ini mengharapkan agar nilai yang diraih oleh seluruh peserta harus menjadi nilai aplikatif, yaitu nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengedepankan semangat toleransi, nasionalisme dan patriotisme karena Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bukan sekedar sebuah kajian teoritis namun aplikatif yang harus ada hasilnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.*** (Hadi Kammis)

Merajut Kerukunan yang Hampir Sirna


dsc_0055MAN Kalabahi – Kemerdekaan Indonesia diraih dengan semangat persatuan yang tertanam dalam jiwa patriotisme pemuda Indonesia, sumpah setia yang dideklarasikan oleh para pemuda 1928 dengan berbagai etnis dan latar belakang budaya dan agama yang disertai dengan semangat persatuan yang tinggi telah menjadikan Indonesia menjadi Macan Asia, negara yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lain.
Dengan semangat persatuan Indonesia pun telah banyak menoreh nama besar dalam percaturan politik regional maupun internasional, Indonesia pun diakui sebagai negara yang berhasil dalam upaya pemajuan, perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia, salah satunya perlindungan hak-hak minoritas. Walaupun Indonesia adalah negara pluralis, negara yang terdiri dari beranekaragaman etnis, suku, ras, bahasa, agama, budaya, dan adat istiadat, namun didalam keanekaragaman tersebut Indonesia mampu menciptakan kerukunan dalam kebhinnekaan yang menjadikan sebagian lainnya merasa bangga, bahkan iri dan dengki.
Hal ini harus diwaspadai, bahwa kebanggaan dan kedengkian tersebut dapat menjadi sebuah ancaman besar dalam kelanjutan keanekaragaman bangsa saat ini. Berbagai cara akan digunakan oleh para pendengki untuk menghancurkan Tanah Tumpah Darah yang kita cintai ini. Dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial berbagai kelompok berupaya merongrong persatuan bangsa yang solid ini. Isu perbedaan etnis, budaya, ras, dan agama yang seharusnya dijadikan simbol kebanggaan dan kekuatan bangsa mereka jadikan sebagai alat pemecah belah persatuan yang telah ditata rapih oleh para pendiri negara, harapan mereka Indonesia lemah dan tujuan politik merekapun tercapai. Padahal hakekatnya bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang pluralism, dengan berbagai macam jenis perbedaan, jenis kelamin, suku bangsa, bahasa dan agama dengan tujuan agar manusia saling mengetahui, mehamahi, dan memenuhi kebutuhan hidup antara satu dengan lainnya (QS. Al Hujurat ayat 13).
Fenomena saat ini menggambarkan bahwa semangat nasionalisme dan patriotisme sebagian pemuda saat ini sangat jauh berbeda dengan semangat pemuda pada masa lampau. Melalui berbagai media sosial mereka menjadikan perbedaan sebagai jalan untuk mencapai kepentingan politik para pendengki, sampai-sampai agama yang sakral pun dijadikan umpan untuk memancing kepentingan mereka. Merasa diri paling benar, merasa budayanya paling pantas, merasa agamanya paling benar, dan merasa daerahnya paling makmur menjadikan mereka lupa bahwa setiap kita menanggung kewajiban membela negara (pasal 30 UUD 1945), setiap budaya daerah merupakan budaya nasional (pasal 32 ayat 2 UUD 19945), setiap ajaran agama mengajarkan tentang kebaikan (pasal 29 UUD 1945), dan setiap daerah dengan SDA-nya merupakan kekayaan nasional (pasal 33 ayat 1-5 UUD 1945).
Fenomena ini harus menjadikan kita berbenah. Pemerintah berbenah, perwujudan kesejahteraan sosial harus dilakukan secara transparan tanpa membeda-bedakan, Aparat penegak hukum harus jujur, adil, konsisten dan konstitusional dalam penegakkan hukum, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan harus menjadi teladan baik bagi generasi muda bangsa, dan para pendidik harus menanamkan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa setiap siswa, siswa sebagai pemuda mendatang dan pemimpin masa depan harus memiliki jati diri dan rasa bangga dari sebuah bangsa yang besar. Siswa harus diajarkan tentang etika pergaulan khususnya dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi sosial, siswa harus ditanamkan semangat membela negara sesuai dengan apa yang diajarkan oleh nilai-nilai ajaran agama, “mencintai tanah air adalah bagian daripada kualitas keimanan seseorang”, dan siswa pun harus diingatkan bahwa setiap agama mengajarkan akan kasih sayang dan semangat toleransi yang sangat tinggi. Kualitas diri seseorang tidak akan sempurna jika tidak didukung dengan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dengan tanggungjawab tersebut, kita akan memperoleh pemuda yang berkualitas pemuda 1928, dan kita pun akan memperoleh para pemimpin yang semangat nasionalisme dan patriotnya selayak semangat para pendiri NRKI, kelangsungan negara berada di tangan kita sendiri. *** (Hadi Kammis)


Komisioner KPUD Kab. Alor hadiri Pemilihan OSIM MAN Kalabahi

Jpeg

Jpeg

Demokrasi Pancasila merupakan bentuk demokrasi yang mejunjung tinggi keseimbangan antara hak dan kewajiban. Demokrasi Pancasila diberlakukan di Indonesia sejak tahun 1968 yang berlandaskan pada Ketetapan MPRS No. XXXVI/MPRS/1968. Salah satu prinsip demokrasi pancasila adalah pelaksanaan pemilu secara berkala dengan dilandasi prinsip Luber dan Jurdil.

Sebagai generasi penerus bangsa para siswa harus dibekali dengan nilai-nilai positif dalam pelaksanaan pemilihan umum. Para siswa harus disadarkan bahwa pemilu bukan sekedar memilih pemimpin, lebih dari itu pemilu berarti proses penentuan masa depan bangsa dan negara selama lima tahun ke depan. Pemilu juga tidak berarti memilih siapa yang kita sukai dan meninggalkan calon yang tidak disukai, namun pemilu berarti memilih pemimpin dengan melihat intelegensi kemampuan pasangan calon dari tiga aspek kecerdasan, yaitu Kecerdasan intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spritual (SQ).

Pemilihan OSIM MAN Kalabahi yang diselenggarakan pada senin (31/10/2016) menampilkan empat calon pasangan yang terdiri dari 1) Nazamudin – Annisa ( NAZANI), 2) Kadarisman – Nabila (KANA), 3) Harsono – Jumriah (HAJRUM, dan,  4) Virgiawan – Winda (VIWIN).Jpeg

Jpeg

Dalam Sambutannya Pembina OSIM MAN Kalabahi, Abdullah Likur, M.Ag menghimbau kepada seluruh siswa agar dapat menjalankan proses demokrasi ini dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kebersamaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tim Pemantau dari unsur OSIS SMA se-kota Kalabahi dan tiga Anggota Komisioner KPUD Kab. Alor yang dikoordinir oleh Oktovianus S. Manehan, S.Sos.

Jpeg

Jpeg

Dalam sambutannya Okto memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Keluarga Besar MAN Kalabahi karena menjadikan KPUD Kab. Alor menjadi mitra dalam mensosialisasikan program-program pemerintah yang berkaitan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum di lingkungan Madrasah. Pelaksanaan pemilihan harus menjunjung nilai etika. Pemilu yang syarat dengan pelanggaran hukum, money politic, saling fitnah antar para pendukung yang berakhir dengan terjadinya konflik social horizontal harus menjadi pelajaran berharga bagi kita dalam menghadapi pelaksanaan pemilu mendatang.

Harapannya semoga proses pemilihan ketua OSIM MAN Kalabahi ini dapat memberikan warna tersendiri dalam menciptakan calon-calon pemimpin masa depan yang lebih berkualitas.***(HK)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Peningkatan Kualitas guru Melalui Bimtek Kurikulum 13


1-bimtek-2016MAN Kalabahi (Inmas) : Profesi guru memegang peranan penting dalam menentukan kualitas bangsa yang maju dan disegani oleh bangsa lain. Keberadaan kurikulum yang selalu berubah sangat menguji kemampuan dan kesabaran guru baik dalam mempersiapkan administrasi pembelajaran maupun dalam menyiapkan materi ajar di kelas. Hal ini  mendorong civitas MAN Kalabahi untuk melaksanakan BIMTEK Kurikulum 2013 revisi April 2016 yang diselenggarakan selama 3 hari ini (22-24 /9/2016) dan dibuka secara resmi oleh Kepala Kementerian Agama Kab. Alor, Drs. Muhammad Marhaban.

Dalam sambutannya, Drs. Muhammad Marhaban memberikan apresiasi kepada Panitia Penyelenggara karena “peka” dengan kebutuhan guru dalam menghadapi perubahan kurikulum belakang ini. Kegiatan ini pun harus dapat memberikan perubahan dalam diri kita dari tidak bisa menjadi bisa dan bisa menjadi lebih bisa sehingga kita mampu menjadi guru yang tidak saja mengajar namun juga memberikan teladan yang baik kepada para siswa, dan pada akhirnya kehadiran kita akan sangat dirindukan oleh para siswa.

Peserta kegiatan Bimtek sebanyak 61 orang guru MAN Kalabahi akan dibekali dengan lima macam Bimbingan Teknis oleh lima narasumber, yaitu; 1) Manajemen Pembelajaran Bermutu oleh Dr. Suardi, M.Pd; 2) Teknik Penyusunan Perangkat Pembelajaran oleh Drs. Kadir Hasan Bakri; 3) Teknik dan Kaidah Penyusunan Soal oleh Drs. Pahlawan Pakro, M.Ag; 4) Pedoman Penilaian K13 oleh Drs. Mansur Samah, M.Pd, dan 5) Teknik Pemanfaatan ITC MSExel dalam Menganalisis Hasil Kerja Siswa  oleh Hadi Kammis, SH.

Diakhir sambutan, Drs. Muhammad Marhaban menghimbau kepada seluruh peserta agar dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin untuk menjadi guru yang professional dalam menjalakan tugasnya di kelas, profesi guru adalah pilihan hidup sehingga apapun alasannya kita harus selalu berupaya untuk meningkatkan kompetensi kita melalui kegiatan-kegiatan seperti ini.***(HK)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PELANGGARAN HAM


PELANGGARAN HAM

Semua negara di dunia sepakat menyatakan penghormatan terhadap nilai-nilai HAM yang universal melalui berbagai upaya penegakan HAM. Akan tetapi, pelaksanaan penegakkan HAM dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain. Ideologi, kebudayaan dan nilai-nilai khas yang dimiliki suatu bangsa akan mempengaruhi sikap dan perilaku hidup berbangsa. Misalnya di Indonesia, semua perilaku hidup berbangsa diukur dari kepribadian Indonesia yang tentu saja berbeda dari bangsa lain. Bangsa Indonesia dalam proses penegakan HAM tentu saja mengacu pada Pancasila dan UUD 1945 serta peraturan perundang-undangan lainnya.

A. Pengertian Pelanggaran HAM

Pasal 1 Angka (6) UU. No.  39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

B. Bentuk dan klasifikasi Pelanggaran HAM

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pernah mendengar berita tentang kasus pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan kita pun pernah melihat bahkan terlibat dalam kasus pengeroyokan, pelecehan, penghinaan, atau juga diperlakukan tidak adil oleh orang lain.

Pelanggaran HAM yang sering muncul biasanya terjadi dalam dua bentuk, yaitu :

  1. Diskriminasi, yaitu suatu pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang langsung maupun tidak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, jenis kelamin, bahasa, keyakinan dan politik yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik secara individual maupun kolektif dalam semua aspek kehidupan.
  2. Penyiksaan, adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan baik jasmani maupun rohani.

Berdasarkan sifatnya pelanggaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Pelanggaran HAM berat, yaitu pelanggaran HAM yang mengancam nyawa manusia seperti pembunuhan, penganiayaan, perampokan, perbudakan, penyanderaan.

Menurut UU. RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Pelanggaran HAM Berat  dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  • Kejahatan genosida, yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara :
  1. membunuh anggota kelompok;
  2. mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota Kelompok.
  3. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;
  4. tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok;
  5. memindahkan paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
  • Kejahatan kemanusian, yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa :
    1. Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan;
    2. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
    3. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional;
    4. penyiksaan;
    5. perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasaan seksual lain yang setara;
    6. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal;
    7. penghilangan orang secara paksa; atau
    8. kejahatan apartheid, yaitu sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh suatu pemerintahan dengan tujuan untuk melindungi hak-hak istimewa dari suatu ras atau bangsa.

Pelanggaran HAM ringan, yaitu pelanggaran HAM yang tidak mengancam keselamatan jiwa manusia, akan tetapi dapat berbahaya jika tidak segera ditanggulangi. Misalnya, kelalaian dalam pemberian pelayanan kesehatan, pencemaran lingkungan yang disengaja dan sebagainya.

Download bahan ajar lengkap disini Pelanggaran-HAM

Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah


Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah

Di era digital seperti sekarang, generasi manusia dapat digolongkan ke dalam dua kelompok. Pertama, Digital Immigrant, yaitu kelompok yang sedari lahir tidak ada internet kemudian saat aktif di dalamnya. Kedua, Digital Native, yaitu orang yang sedari lahir sudah ada internet. Persamaan dari kedua kelompok dapat dipahami bahwa mereka akhirnya sama-sama menggunakan internet untuk ‘kebutuhan’ interaksinya di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media informasi yang semakin pesat, pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri. Semisal dapat memanfaatkan era digital ini sebagai media pembelajaran bagi siswa di madrasah dan sekolah, bahkan pesantren. Akses informasi di era digital ini memungkinkan siswa lebih mengetahui informasi terlebih dahulu ketimbang guru. Tentu hal ini tidak akan membuat guru menjadi ketinggalan dibanding siswanya, karena keberadaan guru di kelas dan lingkungan sekolah lebih kepada memfasilitasi siswa untuk belajar.

Dalam ilmu pedagogik, belajar dapat didefinisikan merupakan sebuah perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Tingkah laku di sini bukan hanya berarti kemampuan siswa secara afektif, tetapi juga kemampuan siswa dari sisi kognitif dan psikomotorik. Di titik inilah, guru yang bisa dikatakan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi siswa, yaitu membimbing siswa agar belajar memanfaatkan penggunaan internet ke arah yang lebih positif untuk keperluan belajar di sekolah.

Dengan kata lain, Digital Immigrant ada untuk membelajarkan para Digital Native agar dapat memanfaatkan internet sebagai media meningkatkan kualitas belajar siswa. Dalam hal ini, guru juga dituntut mengikuti perkembangan arus informasi di era digital melalui kanal-kanal media sosial, misalnya. Dalam kanal inilah, siswa dapat diarahkan untuk membentuk kelompok belajar secara berkesinambungan karena kanal media sosial tidak terbatas ruang dan waktu.

Namun demikian, media sosial atau media lain di dunia maya hanyalah alat (instrumen) bukan tujuan. Artinya, alat tidak bisa menggantikan posisi guru. Sebab alat tidak mempunyai sisi humanitas (kemanusiaan). Oleh sebab itu, kehadiran guru secara emosional sangat penting untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaan seorang siswa.

Melalui media pembelajaran digital, tangkal paham radikal

Euforia media sosial yang saat ini hampir pasti dipunyai oleh setiap individu, menuntut guru agar lebih memahamkan kepada siswa akan arti positif media sosial dan hadirnya ribuan portal-portal berita. Apalagi saat ini, tak sedikit yang memanfaatkan internet untuk menumbuhkembangkan paham-paham yang meresahkan di tengah masyarakat. Hal ini penting menjadi perhatian guru, karena selama ini paham-paham tersebut sangat gencar menyasar anak-anak muda usia sekolah.

Keterbukaan dan luasnya informasi publik yang didukung oleh perkembangan teknologi berdampak pada mudahnya aksesibiltas. Dengan kondisi demikian, guru tidak bisa sekadar acuh tak acuh apalagi sangat terkait dengan perkembangan para siswanya. Melihat perkembangan paham radikal yang terus berusaha menyasar anak usia sekolah, guru dan pihak sekolah harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para siswanya. Wahana seperti Rohis (kerohanian Islam) sebagai ekstrakurikuler jangan dibiarkan liar, justru wadah ini harus dimanfaatkan oleh guru untuk menanamkan pemahaman keagamaan yang baik dan benar, menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan tidak menebarkan kebencian.

Pada akhirnya, era digital menyadarkan dunia pendidikan akan arti penting sebuah inovasi yang harus terus menerus dikembangkan. Dunia pendidikan tidak perlu anti terhadap siswa yang saat ini gandrung dengan media sosial. Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi media sosial di era digital ini agar pembelajaran di kelas lebih berkualitas. Lagipula, media pembelajaran yang ramah dan damai dapat dikembangkan melalui perkembangan dunia digital.

Media seperti ini sudah dibuat dan diterapkan oleh The Wahid Institute dengan menciptakan instrumen ‘Negeri Kompak’. Dalam media pembelajaran ini, anak-anak dididik tentang keberagaman Indonesia yang harus ditopang dengan saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan dan kemajemukan. Dalam media ini, anak-anak tertarik karena dikemas secara apik dan menarik dalam bentuk visualisasi aktif. Artinya, tak hanya berupa gambar, tetapi juga berbagai keterangan yang tersemat di dalamnya.

Di era digital seperti sekarang, berbagai media serupa dapat diciptakan guna mengisi dunia digital atau dunia maya dengan pemahaman keagamaan yang baik demi keutuhan bangsa. Jangan membiarkan dunia maya didominasi oleh gambar, video, maupun narasi-narasi ekstrimis, melainkan dunia pendidikan dan masyarakat harus berperan aktif mengisi dunia maya dengan narasi-narasi positif terkait paham keagamaan dan kebangsaan dengan berbagai media. Media-media digital inilah yang dapat dimanfaatkan juga oleh guru. Selain menarik, juga sangat interaktif karena semua siswa mempunyai passion dengan berbagai media sosial dewasa ini.***

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Sumber : http://www.pendidikanislam.id/fikrah/1069/media-pembelajaran-digital-dan-islam-damai-di-sekolah.html

%d blogger menyukai ini: