KRIMINALISASI BUKU


Oleh : Khairuddin Kedang

Ketika kita mengucapkan kata “Buku”, maka hal pertama yang muncul dalam benak kita adalah bahwa buku itu “jendela kehidupan”. Sebuah ungkapan yang kerap kali muncul sebagai pengetuk jiwa para penikmat buku. Memang, bahwa tidak semua penikmat buku dan orang-orang yang hanya iseng menikmati buku akan menyatakan hal yang sama seperti yang di kutip di atas. Setiap mereka tentunya akan mempunyai pandangan berbeda tentang buku, jika kita menyodorkan kepada mereka sebuah pertanyaan tentang buku. Mungkin ada yang akan menyatakan bahwa buku itu sumber infomasi, atau buku itu sumber ilmu dan lain sebagainya. Tetapi jika pertanyaan yang sama kita sodorkan kepada mereka (para penikmat buku sejati), saya yakin mereka dengan serius akan menyatakan bahwa “buku itu segalanya bagi saya”. Latar belakangnya adalah karena dengan buku, dia mampu mengetahui apa saja yang belum diketahuinya. Dengan buku dia bisa berkarya. Dengan buku dia mampu menjadi apa saja yang dia inginkan. Oleh karena itu, ketika buku kemudian dipandang sebagai sesuatu yang tidak begitu penting bagi orang lain yang tidak mau tahu tentang buku, maka dia dengan sangat menyesal dia akan menyatakan bahwa “betapa sia-sianya hidup mereka yang buta akan buku”.

Saya adalah seorang penikmat buku, tetapi saya tidak akan menyatakan bahwa saya adalah termasuk salah seorang dari para penikmat buku sejati. Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang penulis buku yang terkenal sejagat raya ini. Tetapi kemudian saya merasa takut dengan cita-cita itu sendiri. Permasalahannya bukan karena saya tidak mampu atau tidak bisa menulis dan terus menulis untuk kemudian menjadi sebuah buku. Juga bukan karena seringkali ada seorang penulis yang antar tutur, tingkah laku dan tulisannya tidak sejalan yang diebabkan oleh kehidupan yang sringkali terkontaminasi dengan tuntutan hidup yang serba sulit seperti sekarang ini, tetapi ketakutan saya itu disebabkan oleh para penikmat buku itu sendiri.

Penikmat buka yang dimaksudkan di sini adalah bukan para penikmat buku “sejati”, tetapi penikmat di sini adalah mereka-mereka yang mampu memperbayak buku dengan jalan mengcopy atau mencetak ulang sebagai atau seluruh isi buku tanpa seijin terlebih dahulu kepadqa penerbit atau penulis, yang hal ini jelas-jelas melanggar hak kekayaan intelektual para penulis buku. Dan tentunya bisa kita bayangkan sendiri apa akibat yang terjadi kepada para penulis. Hal inilah yang kemudian membuat saya takut dengan cita-cita itu. Kenapa tidak? Lihat saja di berabagai lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, dan kampus. Tidak jarang para siswa atau mahasiswanya dan bahkan mungkin dosen sekalipun malakukan hal yang sama.

Adalah benar bahwa tujuan daripada para siswa atau mahasiswa dan mungkin juga para dosen mengcopy buku itu adalah untuk kepentingan tugas dan mungkin juga karena memang buku yang difoto copy itu telah habis terjual di toko-toko buku. Dan jika kita pahami lebih dalam lagi tentang persoalan ini, memang salah satu tujuan terbesarnya adalah demi mewujudkan tujuan daripada negara kita tercinta yakni yang disebutkan di dalam pembukaan UUD 1945, bawa “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa……….”, tetapi apa tidak sebaiknya kita membeli saja buku itu?

Kita bisa bayangkan, ketika buku tidak lagi dihargai dengan “jika ingin memilikinya maka harus membeli”. Ini adalah sebuah keharusan. Keharusan yang kemudian memupuk rasa percaya diri para panulis untuk terus dan terus menulis. Keharusan yang juga menghargai hak intelektual para penulis.

Negara kita adalah negara hukum, di mana hukum itu dibuat untuk dipatuhi dan dijalankan sedemikian rupa guna mencapai sebuah keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup sebagai warga negara. Bagaimana kemudian hukum itu dibuat hanya untuk di langgar?

Kita jangan dulu berbicara masalah korupsi, masalah persatuan dan kesatuan bangsa, masalah hbungan internasional, masalah penegakan hukum dan lain sebagainya, tetapi mari kita mencoba berbicara masalah buku yang kelihatannya adem ayem. Kita kita tidak sadar bahwa hal itu sebenarnya adalah juga termasuk salah satu masalah nasional yang tidak ditoreh. Buku hanya dibuatkan undang-undang oleh para petinggi negeri ini, tetapi tidak dengan upaya bagaimana melaksanakannya dalam usaha-usaha nyata. Sama halnya dengan kasus-kasus pembajakan liar yang begitu marak terjadi di negeri ini. Upayanya hanya sebatas merazia dan membakar kaset-kaset VCD bajakan jika itu berkaitan dengan pembajakan film. Adakah upaya menindaklanjutinya dengan menyidangkan para pembajak itu?

Bahwa jika kita peduli dengan hak kekayaan intelektual yang telah diundangkan di republik ini, maka hargailah itu dengan berupaya menaatinya dalam kehidupan sebagai warga negara yang telah diatur oleh undang-undang.

Soejdatmoko dalam pengantar salah satu bukunya dengan judul “Dimensi Manusia Dalam Pembangunan”, yang diterbitkan oleh PT. Pustaka LP3ES Indonesia-Jakarta, menuliskan bahwa :

“Pemekaran daya cipta suatu bangsa bukan saja suatu kemampuan serta kejadian individual, melainkan juga suatu proses sosial, yang ditentukan oleh kondisi-kondisi sosial pula. Maksud dari tulisan ini ialah meneropong lembaga serta kebijaksanaan yang diperlukan untuk mencapai perkembangan daya cipta itu, dalam rangka pembangunan masyarakat kita”.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sebagai bangsa, kita dituntut untuk mampu berkarya sedemikian rupa dalam bentuk apapun, termasuk menulis buku, guna menunjang usaha-usaha dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus segabai penunjang arah pembangunan masa kini.

3 Tanggapan

  1. “Bahwa jika kita peduli dengan hak kekayaan intelektual yang telah diundangkan di republik ini, maka hargailah itu dengan berupaya menaatinya dalam kehidupan sebagai warga negara yang telah diatur oleh undang-undang”. demikian yang penulis sampaikan di atas. Saran saya penulis baca ulang UU NO 19 tahun 2002 tentang hak cipta sehingga penulis bisa mengetahui mana pembajakan dan mana yang bukan pembajakan.

    Suka

    • Terimakasih atas usul dan sarannya….,
      Semoga motifasi ini bisa menambah semangat saya untuk kembali menelaah apa yang masih kurang dari tulisan2 saya sebelumnya dan Insya Allah selanjutnya.
      Saya senang dan bangga sekali, karena masih ada yang mau perduli dengan keadaan ini.

      Suka

  2. Betul sekali…,
    D sna jga ada yg nama HAKI….,
    Bagaimana kemudian hal ini tidak melalui suatu penanganan yg serius dari badan pembuat UU ini?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s