ISLAM DAN DEMOKRASI


Oleh : Sembodo Ardi Widodo (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)

Pasca jatuhnya rezim Soeharto, yang dipelopori oleh gerakan mahasiswa, tepatnya 21 Mei 1998, menaruh harapan besar bagi rakyat Indonesia untuk membangun iklim demokrasi di Nusantara ini. Selama ± 32 tahun mereka berada dalam ‘kungkungan’ rezim otoritarian. Angin segar kebebasan mulai dirasakan oleh rakyat. Optimisme tersebut semakin kuat tatkala, KH. Abdurrahman Wahid—biasa disebut Gus Dus—terpilih sebagai presiden RI yang terus mendengungkan demokrasi, meskipun kita sering dibingungkan dengan kebijakan-kebijakan yang terus berubah-ubah. Diakui atau tidak, tokoh yang berlatarbelakang dari pesantren ini telah memberikan sumbangan yang besar terhadap proses demokratisasi di Indonesia.
Meminjam tipologi yang dibangun oleh Clifford Geertz (1989) terhadap penggolongan kaum muslim menjadi santri, priyayi dan abangan atau dikenal dengan trikonomi yang banyak memunculkan perdebatan tersebut. Maka, tak berlebihan bila dikatakan bahwa kepemimpinan Gus Dur, merupakan periode naiknya santri dalam pentas politik di tingkat nasional, atau bisa disebut dengan santrinisasi politik. Prestasi tersebut tidaklah berlangsung lama, karena tak lama kemudian Gus Dur…..(download klik disini)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s