Hijrah dan Moralitas Relasi Sosial


Oleh : Nur Syam (Rektor IAIN Surabaya)

Peristiwa hijrah menandai perpindahan Nabi Muhammad Saw dari Mekah ke Madinah. Itu merupakan peristiwa manakala Nabi Muhammad memulai fase baru dalam berdakwah. Sebagaimana diketahui, Nabi Muhammad Saw sudah melakukan kegiatan dakwah selama bertahun-tahun di Mekah.

Islam kemudian memasuki era baru, yaitu menjadi agama yang mengembangkan moralitas baru dalam kehidupan. Islam tidak hanya merupakan kumpulan ritus-ritus sempit, tetapi menjadi agama yang mengatur seluruh kehidupan masyarakat dalam berbagai kehidupan, seperti kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Islam dipandang sebagai agama yang komplet, mengejawantahkan sebuah sistem secara menyeluruh untuk mengatur kehidupan masyarakat berbasis pada moralitas kehidupan. Islam menjadi pattern for behavior bagi kehidupan masyarakat sekaligus merupakan pattern of behavior yang menandai bagaimana Islam berada dalam kehidupan masyarakat.

Hijrah merupakan proses historis yang menandai perpindahan geografis dan sosioreligius dari masyarakat Mekah yang sangat keras menolak Islam ke masyarakat Madinah yang menerima Islam. Melalui peristiwa hijrah, maka terjadilah proses perubahan sosial yang cepat.

Masyarakat Arab yang bertumpu pada sistem kabilah, kemudian bisa dipersatukan dengan berbasis pada moralitas kemasyarakatan dan kemanusiaan. Masyarakat Arab yang semula sangat mengagungkan kesukuan masing-masing, kemudian bisa dipersatukan dalam basis pluralitas dan multikulturalitas. Suku-suku yang semula saling berperang, kemudian bisa saling menerima dan memberi. Bahkan orang ansar dan muhajirin saling membagi harta dan kekuasaan mereka.

Jika dipahami secara mendalam, dapat dinyatakan bahwa hijrah Nabi Muhammad Saw ternyata memberikan pelajaran penting tentang bagaimana membangun masyarakat berbasis pada persamaan dan perbedaan. Jadi, hijrah adalah awal dari proses terbentuknya masyarakat Islam yang mengedepankan toleransi saling memahami dan menerima.

Nabi Muhammad Saw dapat membangun relasi antarsuku, agama, dan antargolongan sedemikian baiknya. Hal ini, misalnya, bisa dilihat ketika Nabi Muhammad Saw merawat dengan baik orang Yahudi. Padahal, beliau tahu bahwa orang Yahudi itu sangat membencinya. Beliau merawat orang (Yahudi) itu dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

Orang Yahudi itu membencinya, tapi Nabi Muhammad tetap mengasihinya. Meski orang Yahudi itu bersikap jahat terhadap Nabi Muhammad, tapi Nabi Muhammad membalasnya dengan kebaikan dan kasih sayang. Muslim yang memahami nilai-nilai Islam wajib meneladani sikap dan perilaku Nabi Muhammad.

Jadi, peristiwa hijrah bukan sekadar peristiwa perpindahan secara geografis Nabi Muhammad Saw dan sejumlah sahabatnya, melainkan juga merupakan awal dari proses membangun relasi sosial, agama, dan suku yang mengedepankan ekualitas, penghargaan atas pluralitas dan multikulturalitas. Wallahu a’lam bil shawab. ***

SUMBER : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=267748

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s