HALAL BI HALAL PEMERINTAH KAB. ALOR


Oleh : Drs. NURDIN ABDULLAH
(KASI KEPENDAIS DAN PEMB. MASJID KEMEENAG KAB. ALOR)

MELALUI HALAL BI HALAL KELUARGA BESAR KORPRI, TNI/POLRI BERSAMA DPRD DAN MASYARAKAT KAB. ALOR, KITA SATUKAN TEKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KEIMANAN DAN KEBERSAMAAN DALAM BINGKAI ALOR BERSATU UNTUK MENSUKSESKAN PROGRAM TRI KRIDA

DENGAN HALAL BI HALAL KITA TINGKATKAN KEIMANAN DAN KETAQWAAN DALAM RANGKA
MENSUKSESKAN PROGRAM TRI KRIDA

ا لــــســــلا م عـــلــيــكـــــم و ر حـــمــــة اللـــــه و بــــر كـــا تـــــــه
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Yth. Bapak Bupati Alor Bersama Ibu
Yth, Bapak Wakil Bupati Alor Bersama Ibu.
Yth. ………………………………………………………………..

Sebagai insan yang beragama, mari kita senantiasa menaikan puji dan syukur kita kehadirat yang kuasa, karena atas perkenannyalah sehingga kita dapat berkumpul di aula ini dalam rangka melaksanakan acara halal bi halal dengan tema dan sub tema tersebut.
Tema halal bi hlal kita kali ini cukup menantang kita semua tentang beberapa tekat mulia, yakni tekat untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, tekat dalam kebersamaan dan tekat dalam alor bersatu dalam rangka menmsukseskan program yang juga sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat dan kita semua, yakni program TRI KRIDA.
Acara halal bi halal yang kita selenggarakan hari ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari puasa ramadlan 1430 h. yang baru saja dilaksanakan oleh kaum muslimin.
Hikmah terpenting dari kegiatan ini adalah sebagai alat evaluasi, apakah puasa ramadlan telah membentuk pribadi yang semakin beriman dan semakin bertaqwa atau belum. walaupun sangat abstrak, namun iman dan taqwa merupakan dasar untuk menentukan keberhasilan suatu niat suci; baik niat itu telah terprogram maupun yang akan diprogramkan.

Bapak bupati dan hadirin yang kami hormati.
Kata “iman dan taqwa” memang sangat gampang untuk diucapkan, baik dalam bentuk pengakuan atau diakui. Namun iman dalam bentuk pengakuan atau diakui bukanlah ukuran, akan tetapi penentuan siapa yang beriman dan bertaqwa adalah keputusan yang maha adil.
Sejak malam pertama hingga malam terakhir ramadlan, tujuan puasa senantiasa bergema di setiap masjid, yakni untuk menjadi orang yang bertaqwa. Harapan untuk menjadi orang yang bertaqwwa adalah dambaan setiap orang, karena itu puasa telah diwajibkan pada umat-umat sebelumnya.
Allah ahkamul hakimiin telah menentukan sifat-sifat orang bertaqwa sehingga masing-masing kita bercermin diri pada pada sifat-sifat yang ada agar tidak terjadi taqwa dalam pengakuan atau diakui. Bila kita memiliki sifat-sifat tersebut berarti kita termasuk orang yang bertaqwa; sebaliknya bila kita tidak memiliki sifat-sifat tersebut berarti kita bukan orang yang bertaqwa.
Di antara sifat-sifat orang bertaqwa menurut allah ahkamul hakimiin adalah :

الــــكـــا ظـــمــــيــــن الــــغــــيـــــظ
“Orang yang mampu menahan amarahnya”.
Rasa marah tetap ada pada setiap orang. Orang bertaqwa adalah orang yang mampu menahan amarahnya manakala ia marah, sebab api kemarahan biasanya akar mengalahkan akal sehat sehingga akibat dari kemarahan adalah penyesalan. Oleh karena itu agama sangat melarang seorang hakim memberikan keputusan selagi ia marah.
Keluarga sakinah/keluarga bahagia akan sulit dirasakan bila dalam sebuah keluarga tidak ada yang mampu mengendalikan kemarahannya. Kapal-kapal yang mengarungi lautan luas dengan gelombang dan angin yang selalu menantang akan sulit berlabuh di pelabuhan tujuan bila tidak ada yang mampu menahan amarahnya, dan lain sebagainya.
الـــعــــا فـــيـــــن عــــن الـــنــــا س
“Mema’afkan kesalahan orang lain”.
Tidak ada manusia yang tidak bersalah/keliru atau khilaf. Kekurangan itu dimiliki oleh semua orang tanpa kecuali. Oleh karena itu orang bertaqwa adalah orang yang mampu dan bersedia untuk mema’afkan kesalahan orang lain. Orang bertaqwa selalu memiliki kerelaan dan keikhlasan untuk mema’afkan kesalahan sesama dengan satu keyakinan bahwa orang lainpun akan mema’afkan manakala kesalahan/kekeliruan ada pada diri kita.
Sikap tidak mema’afkan kesalahan orang lain, atau ungkapan “tidak ada kata ma’af bagimu” bukanlah ungkapan orang-orang yang bertaqwa. Agama sangat melarang :

لا تـــنــــظــــر فــى عـــيـــــو ب الــنـــا س كــــأ نــــكــــم أ ر بــا بـــــا
“Janganlah kamu melihat kesalahan orang lain seolah-olah dirimu adalah tuhan”.

و لـــكـــــن ا نـــــظــــــر إ لـــيـــهـــــا كــــأ نــــــك عـــبــــيــــــد
“Akan tetapi lihatlah kesalahan orang lain seakan-akan dirimu sama dengan dirinya”.
Jika prinsip dasar ini kita miliki bersama dalam kehidupan alor bersatu, maka kesediaan dan kerelaan untuk mema’afkan kesalahan orang lain adalah sikap hidup orang bertaqwa yang tidak boleh diabaikan.

لـــــم يـــــصـــــر وا عـــلــــى مـــــا فــعـــلـــــــو ا
“Jangan mengulangi kesalahan yang telah diperbuat”.
Walaupun kesalahan senantiasa menyertai kehidupan manusia, maka sebagai orang bertaqwa, kesalahan itu tidak akan diulangi untuk kedua kalinya. Bahkan lebih ironis lagi bila kesalahan serupa menjadi kesalahan langganan dalam hidupnya.

Bapak bupati dan hadirin yang kami hormati.
Untuk mensukseskan program tri krida, maka beberapa sifat orang bertaqwa tersebut harus kita miliki agar tidak terjadi gap di antara kita dalam bingkai alor bersatu, sebab tanpa adanya persatuan di antara kita maka program apapun akan kandas dan tinggal kenangan-kenangan kegagalan.
Ada sebuah acara sangat menarik di rctv setelah idul fitri. Acara itu bertema : “idul fitri bersama sby”.
Ketika ditanya persatuan yang dibangun setelah beliau terpilih menjadi presiden pada pilpres yang lalu ? Secara bijak beliau menjawab : “hari-hari kemarin yang telah kita lalui adalah kehendak demokrasi. Sekarang saatnya untuk kita bersatu membangun indonesia yang satu”.
Alor bersatu berarti alor dilihat sebagai satu kesatuan yang kokoh (shoffan ka’annahum bunyaanum marshuus) – bukan alor yang berkeping-keping.
Alor bersatu adalah alor dalam kata dan perbuatan – bukan alor yang berbeda antara kata dan perbuatan (limatakuuluuna malaa taf’aluun).
Alor bersatu adalah alor dalam satu rasa (inisytaqo ainuhu asytaqo kulluhua).
Alor bersatu adalah alor dalam kasih dan sayang antar sesama (ruhamaa’u bainahum).
Alor bersatu adalah alor kebaikan bersama (bil birri wat-taqwa) – bukan alor dalam kenistaan dan kemurkaan.
Teringatlah saya akan ungkapan almarhum a.b. Nampira ketika pengatapan masjid di jelela pada tahun 1997. Dalam sambutan beliau mengatakan bahwa :
“dengan bersatu, kita akan berbuat sesuatu yang berat dan besar untuk kepentingan banyak orang. Walaupun kita memiliki segala, tapi bila tidak bersatu maka kita tidak akan berbuat sesuatu, baik untuk diri kita maupun untuk orang lain”.
Rasanya ungkapan tersebut merupakan wasiat sekaligus warisan bagi kita semua untuk berbuat sesuiatu yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Dalam kaitannya dengan program tri krida itu, izinkan kami menyampaikan ungkapan kehidupan yang telah diajarkan oleh agama :
• Barang siapa yang kerjanya hari ini lebih baik dari hari kemarin berarti ia beruntung.
• Barang siapa yang kerjanya hari ini sama saja dengan hari kemarin berarti ia tertipu.
• Dan barang siapa yang kerjanya hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti ia terkutuk.
“beruntung, tertipu dan terkutuk” adalah jawaban yang akan diperoleh bagi manusia dalam kaitannya dengan tugasnya sebagai khalifah yang memakmurkan bumi ini dengan program-programnya.

Hadirin yang kami hormati.
Hanya inilah yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat adanya.
Taqobbalallahu minna waminkum – minal aidin wal fa’idzin – mohon ma’af lahir dan batin.
Billahi taufiq wal hidayah – wassalamu alaikum wrb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s