KEPASTIAN JANJI RAMADLAN


KHUTBAH IDUL FITRI 1431 H.
KEPASTIAN JANJI RAMADLAN
Oleh : Drs. Nurdin Abdullah

الـــــســــلا م عـــلـــيــــكــــم و ر حـــمـــــة اللـــــــه و بـــــر كـــا تـــــــه
الـــحـــمـــد للـــــه – الــحــــمــــد للــــــه الــــذ ى جــــعــــل الـــــشـــمــــس ضـــيــــآء و الــــقـــــمــــر نــــــو را و قــــــــدره مـــنــــــا ز ل لـــــتـــــعــــلـــمــــوا عـــــــد د الــــســـنـــيــــن و الـــحـــســـا ب . أ شـــهــــد أ ن لا إ لـــــه إ لا ا للـــــه و أ شــــــهــــــد أ ن مـــحـــمــــدا عـــبــــد ه و ر ســــو لــــــه . اللـــهـــــم صــلــى عــلـــى مـــحــمـــــد و عــلــى ا لــــه و أ صـــحــــا بـــــه و مـــن تــــبــــعـــــه بــــإ حـــســــا ن إ لــى يـــــو م الــــد يــــن . أ مـــا بـــعــــد فـــيـــا عـــبــــا د اللـــــه. أ و صـــيـــكــــم و نـــفـــســــى بـــتــــقـــــو ى االلـــــــه فـــقــــد فـــا زا الــــمـــتــــقـــــو ن . قــــا ل اللــــه تـــعـــا لــــى فــى كـــتـــا بـــه الــكـــر يــــم .
أ عــــو ذ بـــا للــــه مـــن الــــشـــيــطــا ن الــر جــــيـــم .
بـــســـــم اللـــــه الـــــر حـــمـــن الـــــر حـــيـــــــم. يــــأ يــهـــا الــــذ يـــــن أ مـــنـــــوا ا تـــقــــوااللــــه حــــق تــــقـــا تــــه و لا تـــمـــو تــــن إ لا و ا نــــتــــم مــــســـلـــمــــو ن.
و قـــا ل ر ســـــو ل اللـــــه صـــلـــى اللــــــه عـــلـــيـــه و ســــلــــــم :
إ تـــــق االلـــــه حـــيــــثـــــمـــــا كـــنــــت و أ تــــبــــع الـــــســـــئـــــة الــــحـــســـنــــــة تــــمـــحـــهــــا وخــــلـــــق الــــنــــاس بـــــخــــلـــــق الـــــحـــســـنـــــة. صـــــــــــد ق اللـــــــه الـــعــــــظــــيــــم وصــــــد ق رســــــو لــــه الـــنـــبـــــى الــــكـــر يــــم و نـــحــــن عــــلـــى ذالـــــك مــن الــــشـاهــد يــن .
اللــــــه ا كــــبـــر اللـــــه ا كــــبـــر اللـــــــه ا كــــبــــر . لا إ لـــــه إ لا اللــــــــه ا للـــــه ا كــــبـــــر . اللـــــــه ا كـــــبــــر و للــــــه الـــــحــــمــــد .
Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah.
Tepat jam 17.42 kemarin sore, diiringi do’a “Allahumma lakashomtu, wabika aamantu, wa’ala rizqika aftartu birohmatika Ya Arhamar Rahimiin” kita berbuka puasa sebagai puasa hari terakhir dari puasa Ramadlan kita pada tahun 1431 H. Bagi yang tidak beriman, kepergian Ramadlan adalah kemerdekaan baginya, karena selama sebulan berpuasa dianggapnya sebagai penjajahan dan penjara yang mendatangkan penderitaaan baginya dalam mengikuti nafsu syaitaniyah, bahimiyah dan subu’iyahnya. Akan tetapi bagi yang betul-betul beriman, maka kepergian Ramadlan di sore kemarin mendatangkan airmata kesedihan, air mata perpisahan diiringi do’a penuh harap agar bisa berjumpa kembali dengan Ramadlan pada 1432 H. yang akan datang, karena Ramadlan memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh 11 bulan lainnya.
Berbahagialah kita yang masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadlan 1431 H yang telah pergi dengan membawa tumpukan laporan kehadapan RABBUL ‘ALAMIIN.
Selama sebulan, 98 masjid yang ada di Kabupaten Alor merasa dihormati dan dihargai dengan beribadah di malam hari. Lembaran-lembaran Al-qur’an dibuka dan dibaca hingga khatam. Yang dikhawatirkan adalah, penyakit laten yang mewabah pada bulan syawal dan 11 bulan yang akan datang adalah mesjid-masjid mulai sepi dan Al-qur’an ditutup seolah-olah kewajiban kita telah selesai. Bila penyakit laten ini muncul lagi di bulan syawal dan 11 bulan yang akan datang berarti kita belum LULUS dari didikan Ramadlan.
Mungkin selama ini kita merasa tidak berhasil di kala belum LULUS test CPNS, ADUM, PIM, ABRI, Sertifikasi atau gagal dalam Pemilihan tertentu karena harapan untuk menambah financial menjadi hampa ; tapi kita tidak merasa diri gagal kalau belum LULUS dalam didikan Ramadlan sebagai SYAHRUT TARBIYAH, padahal keutamaan-keutamaan Ramadlan lebih baik dan lebih kekal dari penambahan financial yang selalu dikejar dan dikejar dengan berbgai cara, daya dan do’a.
Memang !! karena keterbatasan kita dalam berpikir, kedangkalan kita dalam pemahaman, kepikunan kita dalam mendengar, kerabunan kita dalam memandang, kekerdilan kita dalam menjangkau, kecacatan kita dalam bergerak dan kebisuan kita dalam berbicara, seringkali kita menomor-duakan Akhirat yang KHAIRU WA ABQO dan menomor-satukan dunia yang YANFADHU.
Ramadlan datang membawa bukti yang autentik pada kita semua, bahwa segala kelezatan dan kenikmatan dunia yang kita miliki secara sah tetapi tida berguna di siang hari karena berpuasa. Ramadlan datang membuka mata hati kita, bahwa pada saatnya nanti, semua yang kita miliki tidak ada gunanya kecuali KETAQWAAN.
و تــــــز و د وا فــــإ ن خــــيـــــر الـــــزا د الـــــقــــو ى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa”. Karena itu Ramadlan datang mendidik kita untuk mendapatkan ketaqwaan itu dengan berpuasa”. (Qs. Al-Baqorah : 197).
Ramadlan sebagai Syahrut Tarbiyah telah mendidik kita agar dalam segala keterbatasan, kita memilih yang “Lebih baik dan Lebih Kekal”. Karena pada saatnya nanti, setelah Izrail di depan mata, barulah kita mengakui :
و ظـــــن أ نــــه الـــــفــــــرا ق
“dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia”. (Qs. Al-qiyamah : 28).
Suami berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Istri berpisah dengan suami dan anak-anaknya. Anak berpisah dengan orangtuanya. Orangtua berpisah dengan anak-anaknya. Aparatur berpisah dengan pangkat dengan eselonnya. Pencari kursi berpisah dengan kursinya, dan manusia berpisah dengan semua yang ia upayakan selama ini.
Agar kita tidak terlambat dalam pengakuan itulah, maka Ramadlan memerintahkan kita untuk memiliki dan menetapkan yang terbaik dan lebih kekal untuk kehidupan jangka panjang.
Dengan demikian, berarti kegagalan dalam pemilihan dan penentuan sebuah harapan dan keinginan, jangan sampai melalaikan kita untuk memilih dan menetapkan paket-paket terbaik yang dibawa oleh Ramadlan.
Jika benar kita termasuk orang beriman, janganlah terlalu berkecil hati dengan dinamika kehidupan yang terkadang bertentangan dengan yang seharusnya. Jangan sampai dinamika kehidupan menggoyahkan pengakuan kita dalam ber-IFTITAH.
إ ن صــــلا تـــى و نـــســـكـى و مـــحــيـــا ى و مــمــا ت للــــه ر ب الـــعـــا لــمـــيــن
”Sesungguhnya sholat saya, ibadah saya, hidup dan mati saya, hanyalah untuk Allah”.
Ingatlah bahwa, ketika matahari masih terbit di belahan timur dan terbenam di belahan barat, pasti terjadinya namanya perubahan. Jangan harap perubahan itu datang dari orang lain untuk diri kita; tetapi perubahan yang hakiki dan patut dibanggakan adalah perubahan yang datang dari diri kita sendiri (Yughairu maa bianfusihim). Karena itu perlu untuk dipertanyakan, bila tidak ada perubahan yang nampak dalam menata kehidupan ini.
Konsep agama telah mengajarkan pada kita yang telah mengaku beragama, bahwa suatu perubahan akan terjadi bila didahului dengan niat baik sebagai rukun pertama dari semua ibadah. Tanpa ada niat, berarti semua hanya sekedar nyanyian yang bersyair indah tapi tidak ada yang dirasakan dalam kehidupan nyata, baik itu supermasi hukum maupun nyanyian lainnya.

Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah.
Dalam menghadapi dinamika hidup yang selalu berubah, hendaknya ikrar kita dalam IFTITAH hendaknya kita jaga. Jangan khianati ikrar itu. Jangan digoyahkan oleh tipuan-tipuan yang menghanyutkan ikrar itu. Alam senantiasa memberikan pelajaran untuk kita semua, bahwa cerah dan mendung senantiasa silih berganti pada suatu wilayah dan pada keadaan tertentu. Saat ini mungkin mendung bagi diri kita, tapi yakinlah bahwa kecerahan pasti datang selama kita tidak mengkhianati ikarar. Sebaliknya saat ini menjadi saat-saat yang cerah bagi orang lain, tapi pasti akan tiba saat mendung baginya.
IFTITAH yang kit baca setiap lima waktu adalah pengakuan terakhir Ibrahim as setelah meniadakan bintang, bulan dan matahari sebagai tuhannya. Artinya bahwa, semua yang dianggap tuhan dalam kehidupan manusia akan tidak ada maknanya manakala ajaran Tuhan dikhianati dan diingkari, baik untuk dirinya maupun diperuntukan bagi orang lain.
Ramadlan datang dengan membawa ribuan janji yang pasti. Janji tentang Rahmat Allah. Janji tentang Pengampunan Allah. Janji tentang pembebasan dari api neraka dan janji untuk mendapatkan tempat yang basah (Royyan). Ramadlan datang dan telah mengkampanyekan semua itu bagi setiap orang beriman untuk meraihnya. Janji Ramadlan adalah pasti. Beda dengan janji-janji manusia saat kampanye yang Cuma sekedar diagendakan. Karena itu agama mengajarkan, bahwa pengingkar janji adalah munafik yang tidak boleh dipercaya lagi selama hidupnya.
اللــــــه ا كـــــبــــر اللـــــــه ا كــــبــــر اللــــــه ا كـــــبــــر. لا إ لـــــه إ لا اللــــــه اللــــــه ا كـــــبــــر . اللــــــه ا كـــــبـــــر و للــــــه الــــحـــمـــــــد.
Oleh karena “sebaik-baiknya bekal adalah taqwa”, maka selama Ramadlan senantiasa diajak dan diseru untuk mendapatkan ketaqwaan.
Ketaqwaan memang gampang untuk diucapkan, dibicarakan dan dinyanyikan oleh setiap orang. Tapi taqwa adalah cerminan sikap hidup seseorang sesuai keputusan Allah. Karena itu Allah telah menetapkan bahwa, diantara sifat orang-orang bertaqwa itu adalah :
لـــــم يــــصـــــر وا عـــلــــى مــــا فـــعــــلــــوا
”Jangan mengulangi kesalahan yang telah dibuat”.
Ramadlan mendidik kita agar selalu berusaha untuk menghinarkan diri dari kesalahan atau sengaja berbuat salah atau membenarkan yang salah. Salah akan tetap salah dan selalu katakan salah walau di hadapan siapapun juga. “Siapa yang berdiam diri dari menyatakan yang benar, maka dia adalah syetan yang bisu”. Karena itu teman yang baik adalah teman yang meluruskan kesalahan, bukan teman yang membenarkan kesalahan.
Salah dalam bertutur kata, salah dalam menyampaikan pernyataan, salah dalam prosedur, salah dalam mengambil kebijakan, salah dalam keputusan, salah dalam menempatkan, dan lain sebagainya. Karena itu masih ada sikap untuk membenarkan kesalahan, mendiamkan kesalahan, menyembunyikan kesalahan dan membela kesalahan, berarti kita belum lulus dari didikan Ramadlan dan belum menjadi orang yang bertaqwa menurut ukuran ROBBUL ‘ALAMIIN.
الــــحـــــق مــــن ر بـــــك فـــــلا تــــكـــــو نــــن مــــن الــــمـــمـــتـــر يـــــن
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Qs. Al-Baqorah : 147).
Kita semua telah lama mengaku diri sebagai orang beragama. Kita marah kalau diri kita dikatakan kafir !!! Semua agama telah mengajarkan kebaikan dan harus patuh serta taat terhadap ajaran agama yang kita yakini. Kebenaran agama harus didahulukan dari kebenaran-kebenaran lainnya yang relatif. Kebenaran agama adalah kebenaran Yang Maha Kuasa, sedangkan kebenaran manusia adalah kebenaran yang tidak memiliki kekuasaan. Kekuasaan MALIKI YAUMIDDIN adalah kekuasaan yang kekal dan absolut, sedangkan kekuasaan yang ada pada manusia adalah sementara. Kekuasaan manusia adalah kekuasaan yang sangat ditentukan oleh putaran detik pada jarum jam, dan itu pasti !!!. Oleh karena itu jangan sampai system yang kita bangun adalah system yang membenarkan kesalahan dan menyalahkan kebenaran.
Ali bin Abi Thalib RA. Pernah mengatakan : “Bila kebenaran absolut diabaikan karena sedikitnya orang dan kesalahan diorganisir secara rapi dalam system yang bathil, maka tunggu kehancuran”.
Pernyataan Ali tersebut terinspirasi oleh sabda baginda :
إ ذا و ســـــد الأ مـــــر إ لــى غـــيــــر ا هــــلـــــه فــــا نــــتـــــظــــر الــــســــا عــــــة
“Bila suatu urusan diserahkan/dipercayakan pada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran”.
Ketika negeri ini menyanyikan supermasi hukum, maka nilai-nilai kebenaran harus didahulukan dari nilai-nilai lainnya. Hukum betul-betul ditegakkan kepada setiap orang tanpa pandang bulu.
Supermasi hukum bukan sekedar konsep dan program. Konsep dan prpgram tidak akan berarti apa-apa bila belum dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab demi tegaknya hukum. Bahkan konsep dan program bisa menjadi boomerang bila terjadi gap antara program dan kerja nyata.
Konsep dan program adalah sebuah mimpi. Karena itu yang diharapkan adalah merubah mimpi menjadi kenyataan. Konsep dan program serta tumpukan teori tidak aka nada artinya bila tidak ada niat yang sungguh-sungguh untuk melakukannya. Dalam hidup ini orang tidak hanya butuh nyanyian, tapi butuh kenyataan, karena kenyataan itulah amal sholeh. Amal sholeh itulah deposito kehidupan jangka panjang setelah Izrail datang menjemput.
Bila sekedar nyanyian, pasti semua orang akan bisa walau suara dan lagunya tidak mengenakkan untuk didengar. Ramadlan bukan saja mengajarkan nyanyian menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa di siang hari, tetapi dituntut untuk selalu menjaga niatnya waktu makan sahur.
Karena itu perlu kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang telah kita buat ???
Harus diingat, bahwa kebenaran yang absolut telah mengajarkan :
إ نـــمـــا هـــلــــك الـــذ يـــن مــن قـــبــلـــكــــم . إ ذا ســـــر ق فـــيــهـــــم الــــســــر يـــفتــر كــــو ه . و إ ذا ســـر ق فـــيــهـــم الــــضــعـــيـــف أ قــا م عــلــيــه الــــحــد .
“Kehancuran umat-umat terdahulu hanya karena : manakla orang-orang terpandang melakukan pencurian maka dibiarkan saja. Tapi apabila orang-orang kecil melakukan pencurian maka ditegakkan hukum”.
Artinya bahwa supermasi hukum hanya berlaku bagi orang kecil dan tidak berlaku bagi orang terpandang. Hukum hanya punya kekuatan dengan orang kecil dan tidak punya kekutan untuk berhadapan dengan orang besar. Kehancuran pasti akan terjadi !!!
اللــــــه ا كـــبــــر اللــــــه ا كــــبـــر اللــــــه ا كــــبــــر . لا إ لــــــه إ لا اللــــــه اللـــــــه ا كــــبــــر . اللـــــه ا كــــبــــر و للـــــــه الــــحــــمــــــد .
Sifat lain dari orang bertaqwa sebagai hasil dari didikan Ramadlan adalah :
و الـــعـــــا فــــيـــــن عـــــن الــــنـــــا س
“Mema’afkan atas kesalahan orang lain”.
Ramadlan datang dan telah mendidik kita agar mampu dan harus berjiwa besar untuk mema’afkan kesalahan orang lain.
Ingat !!! Allah dengan segala ASMA’UL HUSNANYA selalu siap untuk mengampuni hambaNya yang berdosa dan mema’afkan hambaNya yang berbuat salah. Allah senantiasa dan selalu :
يــــغــــفــــر الـــــذ نـــــو ب جـــمـــيـــعـــــا و يـــــعــــفـــــو عــــن الــــســـيـــئـــــا ت .
“mengampuni semua dosa dan kesalahan hambaNya” selama hamba tidak menyekutukanNya.
Tanpa disadari, bahwa sikap kita yang tidak mema’afkan kesalahan sesama dianggap suatu nilai tambah yang positif bagi diri kita. Dianggap sebagai orang yang tegas dan berwibawa. Ternyata, sikap itu adalah menzalimi diri sendiri. Lupa hakekat diri sendiri yang bernama MANUSIA (makhluk yang selalu ada salah dan keliru).
Hari ini dengan jiwa besar kita mema’afkan kesalahan sesama, niscaya orang lainpun akan mema’afkan diri kita yang pasti ada salahnya di hari-hari yang akan datang. Yakinlah bahwa kesalahan dan kekeliruan senantiasa datang dan bergilir pada diri manusia tanpa memandang status dan embel-embel sementara lainnya. Hari ini mungkin aib orang kita besar-besarkan dengan penuh dendam, tapi ingat bahwa keaiban senantiasa ada pada diri kita masing-masing tanpa kita tidak menyadarinya. Tanpa kita lupa bahwa ribuan mata tertuju pada kita. Tanpa kita lupa bahwa ribuan kata-kata tertuju pada kita yang tidak sempat kita mendengarnya.
Isa AS. Mengingatkan pada kita semua dengan ungkapan yang patut direnungi :
لا تـــنـــــظـــــر فـــى عـــيــــو ب الـــنــــا س كـــأ نـــــكــــــم ا ر بــــا بـــــا
”Jangan kamu memandang aib orang lain seolah-olah kamu adalah Tuhan”.
و ا نــــظـــــر إ لـــيــــهــــا كـــأ نـــــك عـــبــــيـــــد
“dan pandanglah keaiban orang seolah-olah kamu adalah dia”.
Artinya bahwa, janganlah kesalahan, kekeliruan dan keaiban orang lain saat ini dijadikan tolak ukur lalu mengambil sikap untuk tidak mema’afkan. Jangan terlalu gunakan telunjuk ini untuk memutlakan kesalahan orang lain sementara 4 jari lainnya menunjuk kesalahan kita tanpa kita sendiri tidak menyadarinya.
Raqib dan Atit terheran-heran dengan kebodohan kita yang selalu membesar-besarkan kesalahan orang seraya mendiamkan, menyembunyikan dan membela kesalahan diri kita sendiri.

Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah
Ramadlan datang tidak menyuruh semua orang untuk berpuasa. Ramadlan hanya menyuruh orang-orang berimanlah yang berpuasa. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur adalah sunnah. Berpuasa dan berbuka adalah hubungan sebab akibat yang tidak bisa dipisahkan menurut maunya kita. Karena itu sebutan berbuka puasa hanya diperuntukan bagi yang berpuasa. Makan bersama keluarga sangat berbeda dengan buka bersama keluarga. Buka bersama keluarga atau memberi buka pada orang yang berpuasa memiliki nilai ibadah tersendiri yang telah diatur secara jelas oleh agama. Karena itu Nabi senantiasa memberikan motivasi bagi yang mampu untuk memberi buka pada orang yang tidak mampu.
مــــن فـــــطـــــر صــــا ئــــمـــــا كـــا ن لـــــه مــــثـــــل أ جـــــر ه غـــيـــر أ نـــــــه لا يـــنــــقــــص مــــن أ جــــــر صـــــا ئــــــم شــــيـــــئ ( ر وا ه الـــــتـــــر مـــــذ ى )
“Siapa yang memberi buka pada orang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi dari pahala orang yang berpuasa sedikitpun”. (HR. Tarmidzi).
Sudah lama kita berjuang untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena itu nilai bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran di Republik ini yang menentukan seorang siswa lulus atau tidak lulus pada UN atau UASBN.
Dalam Zubdatul Majalis dikisahkan : “bahwa ada seorang majusi (penyembah api) melihat anaknya makan di pasar pada bulan Ramadlan maka dipukullah anaknya itu seraya berkata : mengapa engkau tidak menjaga kehormatan kaum muslimin di bulan Ramadlan ?
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini bahwa, si Majusi yang selama ini menyembah api dan tidak mendapatkan nilai-nilai Pancasila tetapi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar umat beragama. Dan yang dilakukan oleh si Majusi itu adalah terhadap anaknya yang masih kecil yang tentunya belum baligh dan belum dikenakaan hukum taklif yang makan di tempat umum.
Memang !!! kemerdekaan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya adalah jaminan UUD 1945, tetapi nilai-nilai toleransi yang telah lama kita dengungkan belum terlihat pada bulan Ramadlan sebagai bulan yang dihormati oleh seluruh makhluk langit sejak munculnya Hilal sebagai awal Ramadlan. Ingatlah bahwa, teman yang baik adalah teman yang meluruskan kealpaan, bukan teman yang membenarkan kesalahan temannya.

Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah
Idul Fitri berarti kembali pada kefitrahan (kesucian) yang telah ternoda dan terpolusi selama 11 bulan yang lalu. Karena itu 1 syawal diharapkan sebagai suasana baru, pola pikir baru, niat baru, membangun semangat baru dan cara pandang baru. Pakaian baru hanya sekedar lambang; sedangkan hati yang baru, hati yang fitrah, hati yang salim dan mutma’innah adalah dambaan dari hasil didikan Ramadlan. Sebagai hasil nyata dari kefitrahan itu adalah, bahwa mulai 1 syawal dan hari-hari yang akan datang adalah hari yang selalu menyenangkan bagi semua orang agar keberadaan kita betul-betul menjadi rahmat bagi alam semesta. Tidak ada kezaliman dan tidak ada penggolongan. Fir’aun dan pengikut-pengikutnya tenggelam karena kezaliman dan penggolongan yang dibangunnya.
Setiap 1 syawal seperti hari ini, MALIKI YAUMIDDIN berfirman kepada para Malaikat :
إ شــــهـــــــد و ا يـــــا مـــــــلا ئـــــكـــــتــــــى
“Wahai Malaikat-MalaikatKU, persaksikanlah”
أ نـــــى قــــــد جــــعـــــلـــــت ثــــــوا بـــــهـــــم عـــلـــى صــــيــــا مـــهـــــم ر ضــــا ي و مــــغــــفـــــر تـــــى .
“bahwa pahala puasa mereka ialah pengampunan dan keridhoanKu”.
Pengampunan dan keridhoan Allah akan diberikan pada orang yang hatinya fitroh di hari ini. Dan hati yang masih kotor adalah penghalang untuk mendapatkan kehormatan itu.
Hati adalah cermin diri. Hati yang bersih akan memberikan pantulan yang bersih. Hati yang kotor akan memberikan pantulan yang kotor dan tidak jelas. Hati adalah tempat bersemayamnya niat. Pada saatnya yang pasti, hati kita akan ditanya tentang apa yang ada di dalamnya dan apa yang diniatkan.
إ ن الــــســـمــــع و الــــبــــصـــــر و الــــفــــــؤ ا د كــــل أ و لــــئــــــك كـــا ن عـــنــــــه مــــســــعـــــو لا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (Qs. Al-Isra : 36).
Puasa Ramadlan yang telah kita laksanakan selama sebulan, tidak hanya menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa maupun merusak puasa; tetapi yang lebih penting adalah menahan pendengaran, penglihatan dan bisikan hati agar tercapainya puasa tingkat eselon satu di hadapan YANG MAHA KUASA. Karena itu puasa sangat berbeda dengan sebagian aksi demo yang tidak makan dan tidak minum sebagai protes kezaliman. Tetapi puasa Ramadlan betul-betul mendidik kita agar menahan diri dari dominasi nafsu syaitaniyah, bahimiyah dan subu’iyyah yang ada dalam diri kita. Itulah puasa yang ideal dan hakiki untuk mendapatkan pribadi yang taqwa.
Akhirnya, marilah kita berdo’a kehadirat Allah SWT, semoga ibadah kita selama sebulan dapat memberikan arti bagi diri kita dengan satu keyakinan, bahwa Ramadlan tak pernah mengingkari janjinya selama sebulan berkampanye di masjid-masjid.
ا عــو ذ بـا للـــه مــن الــشــيــطـا ن الــر جـــيــم . بـــســـم اللــه الــر حــمــن الــر حـــيـــم . اللــــهــــم صــلــى عــلــى مــحــمـــد و عــلــى ا لــــه و ا صـــحـــا بـــــه ا جــمــعــيــــــن .ا للــــهـــم ر بــنـــا تــقــــبــــل مــنـــا صـــلا تــنــــا , و صـــيـــا مــنـــا , و ر كــــو عــنــا و ســـجــــو د نــا , و تــــخــــشـــعـــنـــا , و تــعـــبــــد نـــا , و تــــمـــم تـــكـــســـيـــر نــا يـــا أ ر حـــــــم الـــــرا حـــمــــــيـــــــن . ر بـــنــــــا ا غـــــفــــر و لـــــو ا لــــــد يــــنــــا و ا ر حـــمــهــــمـــا كـــمـــــا ر بـــــيــــا نــــا صــــغــــل را . ر بـــنــــا لا تــــز غ قـــلـــو بـــنـــا و كــــفــــر عـــنــــا ســـــيـــئــــا تـــنــــا و تــــو فـــنـــــا مـــع الأ بــــــرا ر . ر بــنــا ا تـــنـــا فـــى ا لـــد نـــيـــا حـــســـنــــة و فــى الا خـــــر ة حـــســـنـــة و قـــنــــا عــــذ ا ب الـــنــا ر. تـــقـــبــل اللـــه مــنــا و مــنـــكـــم . مــن الـــعــا ئــــد يــــن و الـــفـــا ئــــز يـــن.
و الــحــــمـــد للــــــه ر ب الـــعـــا لــــمـــيـــن . الــــســــلا م عـــلـــيـــكــــم و ر حـــــمــــة اللــــه و بـــــر كـــا تــــه.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s