RAMADLAN MERENOVASI KEFITRAHAN


KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H
RAMADLAN MERENOVASI KEFITRAHAN
OLEH : NURDIN ABDULLAH

الـــســــلا م عـــلــيـــكـــــم و ر حــــمــــة ا للـــــــه و بـــــر كـــا تــــــه
اللــه أ كــبــر اللـــه أ كـــبــر اللـــه أ كـــبــر . لا إ لــه إ لاّ اللـــه و اللـــه ا كـــبــر, اللـــه ا كـــبــر و للـــــه الـــحـــمـــد .
الـــحـــمـــد للــــه الــــذ فـــرص عــلــيـــنـــا الــصـــيــا م فــى ر مـــضــا ن و فــيــهـــا ر حــمـــة و مــغـــفـــرة و عـــتـــق مـــن الــنـــاار. و جــعـــل عـــيــد الـــفـــظــر بــا لــبـــشـــرى والـــســـرو ر. أشـــهـــد أ ن لا إ لـــه إ لاّ اللـــه و أ شــهـــد أ نّ مــحـــمــــدا عـــبــد ه و ر ســو لـــه خــا تـــم الأ نـــبـــيــا ء و الــمــر ســلــيــــن و عـلـى ا لـــه و أ صــا بـــه أ جـــمـعــيــــن . أ مــا بــعـــد فــيـــا عــبــا د اللـــه . أصــيـــكـــم و نــفــسـى بــتـــقـــو اللـــه فـــقــد فـــا ز الـــمــتـــقـــو ن . كــمــا قــال اللـــه تـــعــا لــى فــى كــتــا بــه الــــكــريـــم . أ عـــو ذ بــااللـــه مــن الــشــيـــطـــا ن الـــرجــيــــم . بــــســــم اللـــه الــرحـــمــن الـــر حــيـــم . يـــأ يــهــا الــــذ يــــن ا مــنـــوا اتــــقـــــوا اللـــــه حــــق تـــقــا تــــه و لا تـــمـــو تــــن إ لاّ و أ نــــتــــم مـــســـلـمـــو ن . و قـــا ل أ يـــضــــا : يـــأ يــهــا الـــذ يـــن ا مـــنـــوا كـــتـــب عــلــيـــكـــم الــصــيــا م كــمــا كـــتــــب عـــلــى الـــــذ يـــن مـــن قــبــلــكـــم لــعــلـــكـــم تـــتـــقـــو ن . و قـــا ل رســـــو ل اللــــــه ص. م . إ تــــق اللــــــه حـــيـــثــمـــا كــنــــت و أ تــبـــــع الــــســـيـــئــــــة الـــحـــســنـــــة تــمــحــهــــا و خـــا لــــق الـــنـــــا س بــــخـــلــــق الــــحــــســــن . صـــــد ق اللــــــــه الـــعـــظـــيــــم و صــــد ق ر ســـــو لـــــه الـــنــــبــــــى الــــكــــــريـــــم و نـــحــــن عـــلـــى ذ لــــك مــــن الــــشــــا هــــــد يــــــن .
Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah
Gema Ramadlan telah berakhir. Malam-malam penuh rahmat, pengampunan dan pembebasan telah kita lalui; Nuzul Qur’an telah kita peringati; bahkan Lailatul qadarpun telah kita lewati tanpa sadar. Sungguh berbahagialah bagi setiap orang yang telah melaksanakan puasa dengan “imaanan wahtisaaban”, dan sungguh tertipulah sebagian orang yang hanya “memperoleh lapar dan dahaga dari puasanya selama sebulan. Oleh Karena itu diyakini, bahwa banyak hamba-hamba beriman yang bercucuran air mata di saat sujud terakhir malam ramadlan dan saat berbuka di hari terakhir ramadlan. Itaulah airmata termahal dalam pandangan Allah Al-Basyir. Air mata yang dihargakan langsung oleh harga dengan harga surge. Subhaanallah ! Maha Benar Allah dengan segala janjiNya untuk hamba-hambaNya.
Sesuai surat Al-Baqorah ayat 183 sebagaimana telah dikemukakan dalam mukaddimah, maka ada 3 hal pokok yang perlu kita fahami dari puasa yang telah kita jalani; yakni :
Pertama : AAMANU (Orang-orang Beriman)
Puasa Ramadlan yang telah kita laksanakan adalah satu kewajiban yang hanya dipercayakan pada orang-orang beriman dan tidak mungkin dipercayakan pada yang kafir; karena orang beriman selalu menyadari, bahwa segala yang dilaksanakan senantiasa diketahui oleh Yang Maha Mengetahui, dicatat oleh Raqib dan Atib, akan ditanya oleh Mukar wa Nakir, dilaporkan oleh tangan dan disaksikan oleh kakinya sendiri. Orang beriman selalu berprinsip dan menyadari di setiap waktu dan tempat bahwa “wahuwa ma’akum ainamaa kuntum”. Hanya karena keawaman kitalah, kita menganggap bahwa Penguasa Alam Semesta = atasan, Raqib -Atib = wartawan dan Mukar wa Nakir = BPK, karena memang ada atasan yang sering ditipu anak buahnya, ada berita Koran yang keliru, dan mungkin juga ada BPK yang merasa iba setelah melihat ada oknum yang mulai menghitung keringat, kendatipun mungkin sebelumnya ia sudah mengatur kiat-kiat menghadapi BPK. Hanya IMAN-lah yang menentukan ada atau tidak segala yang kita lakukan. Hanya imanlah yang menentukan kualitas hidup dan kualitas amal. Hanya Imanlah yang menjadi penentu apakah diri kita ini Hamba Allah atau hamba Thaguth.
Demi iman yang benar itulah para Nabi dan Rasul diutus dengan seruan yang sama, yakni : “Innalloha Robbi wa Robbakum Fa’buduhu”. YAHMILUL ARSY hanya memohon ampun bagi setiap orang yang beriman. Hanya karena IMAN itulah Ibrahim as. rela dibakar. Hanya karena IMAN itulah Zakaria as. merelakan tubuhnya disensor. Hanya karena IMAN itulah Ratu Balqis meninggalkan kerajaannya di negeri Saba menuju Palestina. Hanya karena IMAN itulah, Isa putra Maryam menjawab di hadapan Allah :
مـــــا قـــلــــت لــــهـــــم إ لاّ مــــا ا مـــــرتــــنـــى بــــــه ا ن اعــــبــــدوا اللـــــــه ربــــى و ر بــــكــــــم
و كــــنــــت عــلــيــــهــــم شـــــهـــيـــدا مــــا د مــــت فـــيـــــهــــــم (الـــمـــا ئـــــد ة : 117)
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya, yakni : Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka”.
Demi IMAN yang benar itulah, selama lebih kurang 11 tahun Rasul membina dan meluruskan keimanan penduduk Mekkah. IMAN adalah modal dasar kehidupan yang akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. IMAN tidak bisa dihargakan bagi setiap orang yang memahami makna IMAN. Menyadari betapa bermaknanya IMAN dalam kehidupan kini dan akan datang itulah, sebagian Yahudi, PKI dan antek-anteknya senantiasa berusaha keras untuk memalingkan Iman seseorang. Hidup tanpa iman adalah makhluk paling buruk di bawah kolong langit.
إ ن شـــر الـــد وا ب عــــنــد اللـــــه الــــذ يــــن كـــفـــروا فـــهـــم لا يـــؤ مــــنــو ن . ( الأ نــفـــا ل : 55)
”Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”.
Hanya iman yang bisa menentukan perintah mana yang harus diikuti dan mana yang tidak perlu diikuti. Agama tidak pernah melarang jika ada yang memiliki sikap loyal, tetapi loyalitas yang melanggar dan merusak sendi-sendi keimanan dan bertentangan dengan akal sehat berarti itulah kebodohan terbesar yang tidak disadari.
Kekuasaan, kehebatan, kepintaran, kebolehan, kepopuleran, keperkasaan, kelincahan, baik yang dibatasi oleh waktu maupun tanpa batas waktu serta apapun yang disandang, semua itu tidak ada nilainya di hadapan Penguasa Alam Semesta bila itu tidak disadari oleh IMAN, karena IMAN itulah yang menentukan kualitas manusia serta diterima tidaknya hasil kerja manusia.
Puasa yang didasari iman senantiasa mendidik orang untuk jujur. Jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain dan terlebih lagi jujur pada Yang Maha Mengetahui. Ia tidak akan mencuri makan dan minum selama ia berpuasa kendati tidak ada seorangpun yang melihatnya karena ia sadar bahwa perbuatan itu sangat merugikan orang lain. Karena itu agama memberikan hukuman potong tangan bagi pencuri-pencuri. Pencuri identik dengan tikus. Karena itu pencuri atau koruptur seringkali ditayangkan dengan gambar tikus-tikus sedang menggigit uang. Kehancuran akan datang manakala tikus-tikus besar masih saling melindungi. Agama telah mengingatkan :
إ نـــمـــا هـــلـــك الــــذ يـــــن مــــن قــبــلـــكــــم إ ذا ســــرق فـــــيــهــــم الشريف تــــركـــــو ه و إ ذا فــيــهـــــم الــــضـــعـــيــــف أ قــــا م عــــلــيـــــه الـــحــــــد .
“Kehancuran umat-umat terdahulu karena hanya mampu mengambil tindakan hukum pada tikus-tikus kecial sementara tikus-tikus besar tetap berkeliaran dan semakin gemuk”.
Puasa memberikan pendidikan tentang kejujuran, karena kejujuran adalah awal kepercayaan orang, sedang kebohongan adalah awal petaka bagi diri kita. Rasa malu akan menyelimuti diri kita manakala dijuluki pembohong. Tidak akan jual-jual tampang pada orang manakala julukan pembohong telah dinobatkan untuk diri kita. Jika “malu” adalah sebagian dari iman, maka iman akan melarang dia untuk tidak lagi membual karena akan menambah kebohongan di atas tumpuan kebohongan yang ada.
اللـــــه ا كـــبــــر اللــــــه ا كـــبــــر اللـــــــه اكــــبــــر و للــــــه الــحـــــمــــد .
Jama’ah Id Rahimakumullah
Kedua : SHIYAM (Berpuasa)
Puasa berarti “menahan”, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dan merusak puasanya. Dengan demikian puasa mendidik manusia agar mampu menahan diri dalam kehidupan ini. Oleh karena itu perintah berpuasa selalu ada pada setiap agama.
Berbagai perselisihan, percekcokan, pertengkaran, pertikaian yang terjadi, baik di gedung-gedung kehormatan hingga di masjid-masjid hanya karena manusia kurang mampu menghayati makna puasa yang selama ini dijalaninya.
Agama sudah memberikan patokan yang jelas mulai dari rencana membangun masjid hingga penggunaannya. Namun karena ketidaktahuan kita tentang ajaran-ajaran itu sehingga yang kita terapkan dan paksakan pada jama’ah adalah pengaturan birokrasi.
Realita bertutur : ketika kita memiliki rencana dan niat yang sama untuk membangun mesjid, maka kalimat demi kelaimat yang didengungkan adalah : “mari kita bekerja sama ! mari kita bergandengan tangan ! mari kita bersatu padu ! mari kita rapatkan barisan ! dan nyanyian-nyanyian persatuan lainnya. Akan tetapi manakala masjid telah selesai, maka yang muncul adalah keegoan, yang muncul adalah kekuasaan, yang muncul adalah AKU”, sehingga yang terjadi adalah : “dibangun dengan kebersamaan tapi digunakan dengan perpecahan !! diawali dengan kebersamaan tapi diakhiri dengan perpecahan !! dibangun dengan saling menghargai tapi digunakan tidak lagi saling menghargai”.
Memang agama telah memberikan kebebasan pada setiap orang untuk berbicara sesuai kebutuhan. Indonesiapun telah merdeka selama 66 tahun sehingga tidak ada larangan untuk berbicara sesuai kemauan dan kehendaknya. Akan tetapi !! kalau berbicara mengenai ketentuan agama, bersikap dalam urusan agama tanpa didasari dengan pengetahuan dan pemahaman tentang agama, maka yang akan terjadi adalah tindakan penyesatan terhadap umat, memprofokasi umat / mengadu-domba umat, karena Islam dan Al-quran telah memberikan dasar-dasar tentang semua tatanan kehidupan.
Al-qur’an telah memberikan dasar-dasar yang harus dipedomani dan harus dijauhi atau dihindari dalam pembangunan masjid. Al-quran membeberkan bahwa :
والـــذ يــن ا تـــخـــذ وا مـــســجـــدا ضـــرا را و كــفـــرا و تـــفــر يـــقــا بــيــــن الــمـــؤ مـــنـــيـــن
“Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah diantara orang-orang beriman …. “. Al-qur’an menegaskan, bahwa masjid yang telah selesai dibangun dan diawali dengan perpecahan, maka mesjid seperti itu bukan dibangun atas dasar taqwa, tetapi dibangun hanya untuk tujuan-tujuan tertentu. Masjid seperti ini telah diputuskan : “La takum fihi abada” (Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid selama-lamanya).
Allah dan RasulNya tidak pernah menyuruh untuk membangun mesjid yang megah dan menjulang hanya untuk dilihat orang dan dijadikan sarana kebanggan. Tapi yang terpenting adalah dengan adanya masjid diharapkan ada ketenangan untuk beribadah bagi semua orang walau mesjid itu sebesar sarang burung sekalipun.
فــــيـــــه ر جـــا ل يــــحـــبـــــو ن أ ن يــــتــــطـــهـــروا
“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri”.
Dengan adanya masjid diharapkan umat semakin bersatu sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya. Karena keawaman kita itulah yang menyebabkan timbul dibenak kita bahwa membangun masjid sama dengan membangun gedung bertingkat lainnya.
Jama’ah Id Rahimakumullah
Tujuan pertama dan utama dari pembangunan masjid adalah agar terbangunnya sholat 5 waktu secara berjama’ah. Itulah perintah Allah untuk memakmurkan masjid. Tapi ternyata tujuan ini belum terjawab dari sekian masjid yang ada di Kabupaten Alor. Keberadaan masjid-masjid yang megah sama dengan kuburan yang baru diziarahi di awal-awal ramadlan.Hal inilah yang diterangkan oleh Rasulullah SAW bahwa :
إ نّ ا للـــــه تــعـــا لـــى يـــحــــســـر مـــســـا جــــد الــــد نـــيــــا يــــو م الــــقــيــــا مـــــه كـــأ نـــهــــا بــــخــــت بـــيــــض …. و الــــمــــؤ ذ نـــــو ن يــــقــــو د و نـهــا و ا لأ ئـــمـــة يــــســــو قــــو نــهـــا .
“Sesungguhnya Allah akan menghalau masjid-masjid di dunia besok hari qiamat seakan-akan kendaraan putih. Para muadzin yang akan mengarahkan kendaraan itu dan para imam yang menyetirnya.
فــــيــــمــــر و ن فــى عـــــر صــــا ت الـــقــــيــــا مــــــة كــــا لــــبــــر ق الــــخــــا طـــــف
Mereka melewati padang luar hari qiamat laksana halilintar yang menyambar.
فــــيــقــــو ل ا هـــــل الــــقــــيـــــا مــــــة : ا هـــــؤلا ء مــــن ا لــــمــــلا ئـــكــــــة الــــمـــقــــر بـــيـــن ا م مــــن ا لأ نـــبــيــــا ء و الــــمــــر ســــلــيـــــن
Maka berkatalah para makhluk di hari qiamat : Apakah mereka itu para Malaikat yang dekat kepada Allah, ataukah mereka itu para Nabi atau para utusan Allah ?
فــيــنـــا د ى : لا, بــــل هـــؤ لا ء مــــن أ مـــة مــــحــمـــد ص.م. يــــحـــفــظــــو ن الـــصـــلـــوا ت بـــا لـــجــــمــــا عــــــة .
Maka ada suara yang menjawab : bukan, bahkan mereka adalah dari umat Muhammad SAW yang selalu memelihara sholat berjama’ah”.
Itulah perbedaan antara pembangunan mesjid dengan pembangunan gedung lainnya, perbedaan antara masjid yang dibangun dengan dasar taqwa dengan masjid yang dibangun dengan dasar yang lain bagi orang yang tau dan faham tentang aturan.
Dalam masjid hanya ada jabatan Imam, khatib, muadzin dan makmum yang selalu siap untuk ikuti perintah imam. Tidak ada jabatan lain yang disebutkan atau dibesar-besarkan dalam masjid kecuali HAMBA. Pengaturan jama’ah dalam mesjid hanya dengan pendekatan “Bilhikmah, wal mau’idzatil hasanah dan wajaadilhum billati hiya ahsan”, bukan sama seperti atasan mengatur bawahan. Mari kita luruskan hal-hal yang selama ini keliru tapi dianggap betul dalam mengatur jama’ah. Yang memimpin adalah imam, yang memberikan petuah adalah khatib, yang menyeru adalah muadzin, sedangkan makmum hanya ikut saja apa yang dilakanakan oleh imam sesuai ketentuan yang berlaku. Kekacauan akan terjadi kalau semua makmum berbicara. Karena itu kita baru mampu melaksanakan sholat berjama’ah di dalam sholat, tapi belum mampu menterjemahkan nilai-nilai sholat berjama’ah dalam kehidupan nyata sehingga sholat tetap sholat tetapi “Fawai lullil mushollin” yang kita peroleh dari sholat kita. Peran sholat sebagai “Tanhaa ‘Anil Fahsyaa’I wal Munkar” belum juga kita wujudkan dalam kehidupan nyata.
Kalau saja nilai-nilai pendidikan sholat jama’ah itu telah mampu kita terjemahkan dalam kehidupan nyata, maka akan terbangunlah kehidupan nyata yang surgawi. Ketika Qur’an (Al-Hijir : 47) menceritrakan :
نـــــزعـــنـــا فـــى صـــــد و ر هــــم مـــن غــــل إ خـــــوا نــــا عـــلـــى ســـرر مـــتـــقـــا بـــلـــيــــن
“Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” belum kita rasakan dalam kehidupan nyata hanya karena masing-masing kita belum mampu menahan diri”.
Banyak gesekan-gesekan krusial yang kita temui setiap saat hanya karena masing-masing kita belum mampu menahan diri. Ramadhan bukanlah bulan kumpulan orang-orang lapar dan dahaga di siang hari, tetapi ramadhan sebagai sampel kehidupan kehidupan “Islam Kaffah”. Ramadhan bukan saja bulan yang disunnahkan untuk membaca Al-qur’an, tetapi sebagai sampel agar setiap orang yang mengimani Al-qur’an harus bisa membaca, memahami dan mengamalkan kandungannya serta mengajarkan Al-qur’an pada orang lain agar sikap hidupnya ada sedikit cerminan Al-qur’an, sebab orang yang sedikit Al-qur’an di dalam dadanya akan berbeda sikap dan sifatnya dengan orang yang di dalam dadanya kosong dengan Al-qur’an.
اللـــــه ا كـــبـــر اللــــه ا كـــبـــر اللـــــه ا كــــبـــر و للــــــه الــــحـــمـــــد
Oleh adab puasa ramadhan adalah menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan merusak nilai-nilai puasa, maka Rasulullah SAW telah menetapkan 5 hal yang akan membatalkan puasa tanpa kita sadari. Kelima hal dimaksud adalah :
الــــكــــــذ ب = Berdusta
Berdusta selagi puasa termasuk perbuatan yang merusak puasa. Berdusta adalah tanda awal kemunafikan seseorang. Bila seseorang terbiasa dengan dusta, maka akan muncul sifat-sifat munafik lainnya. Janji-janji yang tidak ditepai adalah munafik. Kepercayaan yang dikhianati adalah munafik. Oleh karena si munafik sangat membahayakan dan menggoncangkan tatanan kehidupan maka Allah memberikan hukuman dengan jelas dan tegas, bahwa :
إ ن الـــمــنـــا فــقـــيــــن فــى الــــد ر ك الأ ســفـــل مـــن الـــنـــا ر و لـــن تــــجـــد لـــهــــم نــصـيـــرا
“Sungguh orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (An-Nisa : 145). Bahwa pendusta-pendusta itu :
… لا تـــفــتــح لــهــم ا بــوا ب الـــســمــآ ء و لا يـــد خــلــو ن الــجــنـــة حــتـــى يـــلـــج ا لــجـــمـــل فــى ســــم الــخــيــا ط … (الأ عـــرا ف : 40)
“tidak akan dibukakan bagi mereka pintu langit (doa dan amal mereka tidak diterima Allah) dan tidak akan masuk surge hingga unta masuk ke lubang jarum”.
Oleh karena itu agama sangat melarang untuk menolong, membela, mendukung atau bersikap loyal terhadap munafik, sebab hukumannya akan sama dengan munafik. Agama selalu memerintahkan kita untuk berlaku jujur dan berkata apa adanya. Kejujuran itulah yang akan menunjukan pada kebajikan dan hanya kebajikan itulah yang dapat mengantarkan pada jannah. Jangan menipu sesame dengan kemunafikan di atas kemunafikan. Hanya batin-batin yang kufurlah yang masih merasa tenang dengan kemunafikan yang ia taburkan pada sesama. Jika malu adalah sebagian dari iman, maka orang munafik tidak lagi memiliki rasa malu sehingga masih muncul dan berkeliaran di semua penjuru.
الــــغـــيـــبــــــة = Menyebut kejelekan orang.
Menggibah selagi berpuasa adalah perbuatan yang merusak puasa yang sementara dijalani. Menggibah adalah :
إ ذ ا ذ كـــــر ت أ خــــا ك بــــمـــا يــــكـــــره
“Jika kamu menyebutkan, membicarakan, menceritrakan keadaan saudaramu yang ia tidak suka hal itu disebutkan atau dibicarakan ke orang lain”.
إ ن كــــا ن فـــيـــــه مــــا تـــقــــــو ل
”kendatpun yang disebutkan atau dibicarakan itu benar adanya”.
Moment yang seringkali mendorong seseorang untuk membeberkan atau menceritrakan kekurangan orang lain adalah, manakala ada kompetisi untuk suatu kepentingan bersama. Ia hanya sibuk dengan kekurangan orang lain seraya lupa dengan kekurangannya yang lebih banyak dan terbuka lebar di mata banyak orang. Ia tidak perduli, apakah cara yang ditempuh diberkahi atau tidak. Bahkan terkadang menggunakan bahasa-bahasa agama yang ditafsirkan menurut kedangkalan pengetahuannya tentang agama. Ia menggunakan potongan-potongan ayat atau hadits untuk kepentingannya. Inilah bentuk-bentuk penyesatan terhadap umat. Inilah sikap yang akan menjurus pada penjualan agama demi kepentingannya Inilah yang diingatkan oleh agama :
لا تــــشـــتـــــروا بــــأ يــــا تــــى ثــــمـــنــــا قــــلــــيــــلا (الـــبــقـــرة : 41)
“Jangan kamu menjual ayat-ayatKu dengan harga murah”.
Sesuatu yang diperoleh dengan keberkahan akan berbeda dampaknya dengan yang diperoleh dengan keterpaksaan. Kemerdekaan Indonesia karena atas berkat Rahmat Allah, bukan atas berkat yang lain. Karena itu yang harus ditantang dalam kemerdekaan adalah sikap, tindak tanduk dan kebijakan apapun yang menentang Allah. Ini yang jarang kita lakukan karena nanti dianggap tidak loyal. Inilah yang dalam bahasa Al-qur’an sebagai kelompok orang-orang yang bertuhankan Thagut. Puasa mendidik kita untuk menahan diri dari bertuhankan Thagut.
Sungguh Al-qur’an telah memberikan jaminan :
لــــو أ نّ أ هــــل الــــقـــرى أ مـــنــــوا وا تـــــقـــوا لـــفــــتــــحـــنــــا عــــلــيـــهـــــم بـــــركــــا ت مـــن الـــســمـــآ ء والأ ر ض …. (الأ عــــراف : 96)
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ….. “.
Jelaslah bahwa, keberkahan hanya diberikan pada orang yang betul-betul beriman dan bertaqwa, bukan pengakuan atau mengaku diri.
Tiga macam cara yang tidak dianggap ghibah; yakni : (1) menyebut kekejaman raja yang dholim (2) meyebut kerusakan akhlak orang yang terang-terangan berbuat dosa di muka orang, dan (3) menyebut kesalahan ahli bid’ah.
الــــنــــمـــيــــمـــــة = Tukang fitnah/Adu Domba.
Memfitnah dan mengadu domba orang selagi puasa adalah perbuatan yang merusak puasa. An-Namimah/mengadu domba adalah : “mengadukan hinaan si penggunjing tentang kejelekan dan keburukan terhadap orang yang digunjingkan.
An-Namimah merupakan awal perpecahan dari dua orang yang menjalin hubungan, awal permusuhan dua orang yang berteman, dan awal kebencian diantara dua orang yang saling mencintai. Karena itu dalam kitab Mantsur Al-Hikam dikatakan bahwa : “Mengadu domba itu adalah pedang peperangan”. Wujud dari An-Namimah itu adalah الــــشــغـــا ر (orang yang menaburkan benih permusuhan di antara manusia), الــــقـــتــــا ت (orang yang berbicara dengan suatu kaum, kemudian dia menyebarkan pembicaraan tersebut), dan muncul lagi yang lebih berbahaya adalah الــــقــــلا ء (melaporkan dan mengadu kepada atasan tentang hal yang dilakukan oleh staf/bawahannya tetapi dihiasi dengan tujuan tertentu sehingga orang yang difitnah itu dipecat dari jabatannya).
An-Namimah adalah senjata paling ampuh untuk para pencari muka. Sebabnya hanya merasa dengki , iri dan sakit hati dengan keberhasilan orang lain. Ia lupa, bahwa ketika berkumpul dalam lautan manusia untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kehidupan kini, pencari muka dibangkitkan dengan 2 wajah sebagai balasan dari selalu bermuka dua dalam kehidupan kini.
مـــلــعـــو ن ذ و الـــو جــهــيــن , مـــلــعـــو ن ذ و اللــــســــا نــيــــن
“Terkutuklah orang yang mempunyai dua muka. Terkutuklah orang yang mempunyai dua lidah”.
الــــيـــمـــيــــن الـــغـــمــــو س = Sumpah Palsu.
Sumpah adalah : “menyatakan atau mengukuhkan suatu persoalan dengan menyebut nama Allah” dan wajib dilaksanakan sesuai isi sumpah. Dalam praktek, biasanya kitab suci yang diimaninya diletakkan di atas kepala orang yang akan disumpah. Inilah sumpah Mun’aqadah sehingga ada sanksi hukum manakala dilanggar atau dikhianati.
Al-qur’an surat Al-Maidah ayat 89 menguraikan 3 macam kafarat yang harus ditunaikan manakala mengkhianati isi sumah; yakni :
1. إ طــعـــا م عـــشـــرة مــــســـا كـــيــــن مـــن أ و ســـــط مـــا تـــطــعـــمــو ن ا هـــلــيــــكـــــم
“member makan 10 orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan keluargamu”.
2. أ و كـــــســـــو تـــــهــــــم = atau member pakaian kepada mereka.
3. أ و تـــــحــــريـــــر ر قــــبـــــة = atau memerdekakan seorang budak.

Akan tetapi “Yaminul Ghamus” (sumpah palsu, sumpah dusta, sumpah bohong), maka itu termasuk dosa besar dan tidak ada kafatanya kecuali jahannam. Dengan demikian bagi yang pernah bersumpah, atau sudah beberapakali bersumpah saat pelantikan pengukuhan, harus lebih hati-hati dengan bahasa sumpah, sebab bahasa sumpah sangat berbahaya diri sendiri. Karena itu maka bersumpah palsu termasuk hal yang membatalkan puasa.

الـــنــــظـــــر بـــــشـــهـــــو ة = Melihat, memandang, menonton dengan syahwat.
Berpuasa di era kemajuan teknologi sekarang merupakan perjuangan maha berat untuk menjaga puasa kita. Audio visual, baik televise dengan berbagai channelnya, internet, hp dengan segala prangkatnya. Semua itu sangat memungkinkan bagi setiap orang untuk melihat dunia dengan segala bentuknya. Tontonan-tontonan yang tidak hanya menjadi kecenderungan kaum muda karena masanya yang penuh dengan kejolak, tetapi ba’i-ba’ipun memiliki kecanduan yang sulit lagi untuk ditinggalkan. Dr. Dadang Hawari mengomentari : “bila seseorang telah kecanduan dengan tontonan-tontonan ala anak muda, maka sebagian waktunya hanya dihabiskan untuk menghayal dan menghayal, tanpa ada yang bisa dibuatnya karena terbuai oleh hayalan-hayalan hasil tontonan”. Oleh karena itu agama memerintahkan kita untuk يــــغــــضــــو ن مــــن أ بــــصــــا ر هـــــم dan يــــغــــضـــضــــن مــــن أ بـــــصـــا ر هـــــن .
Orang yang berpuasa dilarang menonton tontonan-tontonan yang mendatangkan syahwat karena akan merusak atau membatalkan puasanya.
اللـــــه ا كـــبـــر اللــــه ا كـــبـــر اللـــــه ا كــــبـــر و للــــــه الــــحـــمـــــد
Ketiga : LA’ALLAKUM TATTAQUUN (Agar Kamu Menjadi Taqwa)
Ketaqwaan adalah harapan dan Icita-cita hidup sebagai makhluk yang beragama. Ketaqwaan adalah sebaaik-baik bekal. Ketaqwaanlah sebagai pembeda antara yang termulia dan yang terhina di hadapan Allah dengan segala Asmaul HusnaNya.
Terkadang kepala kita semakin besar, telinga semakin lebar, dada semakin membusung, langkah dan gaya hidup semakin lupa diri manakala diri kita sudah disapa “Yth, Yang Mulia, Yang Baik” dan sapaan-sapaan lainnya seraya kita lupa bahwa terkadang ucapan-ucapan seperti itu adalah bahasa yang paling lezat untuk para pencari muka. Semua sapaan itu tipuan belaka manakala pribadi taqwa jauh dari agenda perjuangan hidup. Bila pegangan hidup tidak lagi merujuk pada Al-qur’an dan Sunnah. Prinsip hidup semakin jauh dari syahaadat. Pola hidup semakin menyimpanag dari Iftitah kita sebelum Al-Fatihah, maka tunggulah kehancuran. Sejarah kejayaan umat-umat terdahulu telah membuktikan semua itu.
Ketaqwaan berarti hati-hati. Hati-hati dalam niat. Hati-hati dalam mengambil sikap. Hati-hati dalam mengambil menentukan kebijakan. Hati-hati dalam melantunkan janji-janji pada orang jika tau bahwa janji adalah hutang yang harus anta pertanggungjawabkan di hadapan AHKAMIL HAKIMIIN. Ramadlan sebagai pendidikan ketaqwaan telah memberikan janji tentang RAHMAT, PENGAMPUNAN, dan PEMBEBASAN disamping janji-janji lainnya yang pasti ditepati.
Ramadlan adalah bulan pendidikan untuk mendapatkan gelar TAQWA. Gelar Taqwa adalah gelar paling bergensi dari semua gelar yang telah ada maupun yang akan ada. Gelar taqwa tidak bisa dibeli dan bukan juga hadiah, bukan diperoleh dari jarak jauh dan bukan palsu, tetapi hasil dari suatu perjuangan yang sungguh-sungguh, pengorbanan dan ujian melalui didikan Ramadlan. Taqwa bukanlah pengakuan atau diakui. Taqwa pengakuan adalah taqwa gadungan, sedangkan taqwa yang diakui adalah taqwa yang menjerumuskan, sebab :
هـــــو أ عــــلــــم لــــمــــن ا تـــقــــى (الـــنـــجــــم : 32)
”Dia (Allah)lah yang paling Mengetahui tentang siapa yang bertaqwa”. Karena Dialah yang memiliki ASMA’UL HUSNA.
Diantara sifat-sifat orang bertaqwa sesuai ketentuan Allah AL-HAKIM adalah :
Ia mentaati Allah dan RasulNya di atas segala bentuk ketaatan terhadap atasan atau penguasa manapun juga. Loyalnya terhadap Allah dan RasulNya melebihi loyalnya terhadap atasan dan penguasa manapun juga.
1. Ia segera memhon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan dosa yang diperbuatnya.
2. Ia mampu menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit dengan satu keyakinan bahwa :
إ ن اللــــــه ا شــــتــــرى مـــن الــــمـــــؤ مـــنــيــــن ا نــــفـــســـهــــم و ا مــــوا لـــهــــم بـــأ ن
لـــهــــم الـــجـــنـــــة (الـــتــــو بــــه : 111)
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surge untuk mereka”.
3. Ia mampu menahan amarahnya ketika ia marah, karena ia tau bahwa saat marah berarti الــــنـــا ر د ا بــــن آ د م يــــو قـــــد فــى فــــؤا (menyalakan api dalam qalbu anak Adam).
Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW dan meminta berulang-ulang agar dirinya diberikan satu perintah untuk mengerjakan sesuatu yang sedikit tapi pengaruhnya sangat besar terhadap amalan-amalan lainnya. Mendengar permintaan itu lalu beliau bersabda kepadanya :
لا تـــغــــضـــــب (jangan marah).
Oleh karena orang yang marah itu hatinya sudah terbakar api, maka urat lehernya menegang, matanya merah, akal sehatnya tidak berfungsi sehingga melupakan jasa dan budi baik orang pada dirinya.
4. Ia selalu siap untuk memaafkan kesalahan orang dengan satu keyakinan bahwa orang lainpun akan memaafkan manakala ia salah. Hari ini orang lain salah pada dirinya tapi besok pasti dirinya akan berbuat salah pada orang lain.
5. Ia tidak akan mengulangi perbuatan salah yang pernah dilakukan. Cukup kesalahan pertama menjadi pelajaran bagi dirinya untuk tidak terulang lagi.
Di 1 syawal nan fitrah ini, marilah kita berusaha untuk selalu istiqomah dengan ajaran-ajaran agama yang fitrah dalam berbagai hal, agar kefitrahan yang dibawa sejak lahir, kefitrahan yang direnovasi setiap ramadlan, kefitrahan yang dirayakan setiap 1 syawal dapat ditingkatkan dari saat ke saat hingga terwujudlah pribadi-pribadi yang taqwa, pribadi-pribadi yang hanif sebagaimana Al-Hanif Ibrahim As.
Bersyukurlah, karena kita masih diberi waktu untuk saling “Tawa Shoubil Haq watawa Shou Bis-Shobar agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.
Akhirnya, marilah kita berdo’a kehadirat SWT, semoga ibdah ramadlan kita dapat member arti bagi diri kita, baik kehidupan kita pasca Ramadlan, maupun kehidupan kita yang lebih kekal nantinya.
أ عــــو ذ بـــا للـــــه مـــن الـــشــيـــطــا ن الـــــرجـــيــــم . بـــســــم اللـــــه الــــرحـــمـــن الــــرحـــيــــم.
اللــــهــــم صــلــى عــلــى مــحـــمــــد و عـــلـــى ا ل ســــيــــــد نــــا مــحــــمــــــد .
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim !
Puasa Ramadlan telah kami tuntaskan. Qiyamul Lail telah kami tegakan. Tadarus Al-qur’an telah kami khatamkan. Zakat fitrah telah kami salurkan. Semua itu kami lakukan sebagai wujud ikrar kami dalam iftitah kami.
Malam-malam penuh rahmat telah kami lewati. Semoga kami termasuk hamba-hambaMu yang akan mendapatkan sebagian rahmat yang masih Engkau tahan untuk kehidupan kelak.
Malam-malam penuh maghfirah telah kami lewati. Semoga kami termasuk hambaMu yang akan mendapatkan ampunanMu sebagaimana hamba-hambaMu yang telah Engkau berikan ampunan.
Malam-malam pembebasanpun telah kami lewati. Semoga kami termasuk hamba-hambaMu yang akan Engkau bebaskan dari azabMu Ya Allah.
Ya Allah Ya Robbul Alamin !
Engkau telah mendidik kami, bahwa Taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadapMu kelak. Taqwa yang akan mengangkat derajat kami. Taqwa yang memuliakan kami. Karena itu golongkanlah kami menjadi orang-orang yang bertaqwa sesuai didikanMu lewat Ramadlan.
Selama ini kami hanya pandai menghitung kebaikan dan lupa menjumlahkan kesalahan kami. Kami hanya bisa menghitung keberhasilan dan tidak berani membeberkan kegagalan kami. Karena itu ampunilah kami Ya Ghofur. Tanpa ampunanMU berarti kami adalah hamba-hambaMu yang rugi ketika mengakhiri sandiwara dunia ini.
Ya Allah Ya Salim !
Terkadang negeri dunia telah memperdayakan kami, sehingga kami lupa negeri akhirat yang sementara kami tuju. Terkadang dunia memporak-porandakan persatuan dan kesatuan kami, sementara kami lupa, bahwa kami akan berdiri di hadapanMu tanpa apa-apa dengan nasib dan rintihan yang sama. Karena itu Ya Allah, satukanlah kami sebagaimana Engkau telah mempersatukan suku Aus dan Khajraj.
ا للـــــهـــــم ا لـــــف بــيــــن قـــلــــو بـــنــــا و ا صــــلــــح ذ ا ت بــيــنـــنــــا و ا هــــــد نــــا ســــبــــــل الـــــســـــلا م و نـــجـــنـــــا مـــــن الـــــظـــلــــمـــا ت إ لــى الـــــنـــــو ر .
Ya Allah Ya Qodir !
Di 1 syawal yang lalu, kami hadir di lapang ini dengan orangtua kami. Saudara-saudara kami dan handai tolan kami. Namun di 1 syawal ini mereka telah jauh dari kami karena mereka telah memenuhi panggilMu. Saat-saat seperti ini, di pusara nan bisu mereka bersandar, menunggu bingkisan do’a dari kami. Karena itu Ya Allah !
ر بـــنـــا ا غــــفـــــيــر لــنــــا و لـــــوا لـــــد يــــنــــا و ا ر حـــمـــهــــمـــا كــــمـــا ر بــــيـــا نــــا صـــغـــيـــرا . ر بـــنـــا ا غــــفـــــيــر لــنــــا و لـــــوا لـــــد يــــنــــا و للـــــمــــؤ مـــنــــيــــن يـــــو م يـــــقـــــو م الــــحـــســـــا ب .
Kamipun berdo’a penuh harap, kiranya Engkau masih memperkenankan kami untuk bertemu kembali dengan Ramadlan pada 1433 H nanti, karena ditanganMulah terletak hidup dan mati kami.
ر بـــنـــا تـــقـــبــــل مـــنـــا صـــلا تـــنــــا و صـــيــــا مـــنـــــا و ر كـــــو عــــنـــــا و ســــجــــو د نـــا و تــــخــــشــــعـــنــــا و تــــعــــبــــذ نــــا و تـــــمــــم تـــــكــــثـــيــــر نـــــا يــــا ا للــــــه يــــا ا ر حـــــم الـــــر حــــمــــيـــــن . ر بـــنــــا ا تــــنــــا فـــى الـــــد نــــيـــــا حــــســـنـــــة و فــى ا لآ خـــــر ة حـــســــنـــــة و قــــنـــــا عــــذا ب الــــنــــــا ر. ســـبــحــــا ن ر بــــك ر ب الــــعــــز ة عـــمــــا يــــصـــفــــو ن و ســـلا م عـــلـــى الــمـــر ســلـــيــــن , و الــــحـــمــــد للـــــه ر ب الـــعـــلـــمـــيــــــن . و الــــحـــمــــد للــــــه ر ب الــــعــــا لــــمـــيــــن . تــقــــبــــل اللــــــه مـــنــــا و مــــنــــكـــــــم . مــــن الــــعـــــا ئــــــد يـــــن و الــــفـــــا ئــــــز يــــــن . الـــــســـــلا م عـــلــيـــكــــــم و ر حـــمــــة اللـــــــه و بـــــر كـــا تــــــه .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s