Konsep Pembinan Akhlak dalam Islam


Oleh : Abdullah Likur, M.Ag

1. Kedudukan Anak Dalam Islam
Untuk memahami posisi anak dalam pandangan Islam, terlebih dahulu kita harus mengetahui beberapa istilah yang berkaitan dengan kriteria anak, yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Istilah-istilah yang dimaksudkan dengan anak dalam Al-Qur’an adalah “ziinatul hiyatid dunya” atau perhiasan kehidupan dunia (QS. 18 : 46), “fitnah” atau cobaan (QS. 8 : 28, QS. 64 : 15), “’aduwwun” atau musuh (QS. 64 : 14), dan “qurata a’yun” atau penenang hati (QS. 25 : 74).
Sementara itu para Sarjana Islam mengungkapkan bahwa anak adalah amanah Allah (Tafsir, 1992 : 60), anak adalah amanah dan cobaan Allah (Tarazi, 2001 : 61), anak adalah karunia sekaligus amanah Allah (Rahim, 2001 : 43) dan anak adalah rahmat Allah yang diamanahkan kepada orang tuanya (Ilyas, 1995 : 46). Dari beberapa pendapat yang penulis kemukakan ini apabila kita hubungkan dengan istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an di atas tampaknya tidak ada perbedaan, melainkan secara substansi saling melengkapi antara satu dengan yang lain.
Berangkat dari beberapa istilah dan pandangan dari para Sarjana Islam yang ada dapat disimpulkan bahwa anak adalah amanah Allah yang membutuhkan pemeliharaan, penjagaan, kasih sayang, perhatian dan tanggung jawab orang tua. Ia akan menjadi baik atau buruk bergantung kepada pendidikan yang diterimanya dari lingkungan dimana ia berada. Orang tua, dalam peranannya sebagai penanggung jawab pendidikan, tidak sekedar sebagai pendidik anaknya secara alami dalam arti fisiknya saja, melainkan lebih dari itu ialah pengembangan mental agama dengan akhlak yang mulia dan terjaga dari hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai agama.
Allah dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa anak merupakan amanah yang perlu dididik, dipelihara dan dijauhkan dari hal-hal yang maksiat, sebagaimana tersebut dalam Surat An Nahl ayat 72 bahwa :
“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rizki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah ?”
Kepribadian anak yang memiliki akhlak yang mulia adalah mustika hidup yang membedakan manusia dari hewan. Manusia tanpa akhlak akan kehilangan derajat kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan yang mulia, dan merosot ke derajat binatang. Ia sangat berbahaya, bahkan lebih jahat dan lebih buas dari pada binatang yang paling buas (Tatapangarsa, 1990 : 17). Jika orang tua lalai dalam membimbing akhlak anak, maka mereka akan menyimpang, rusak dan berakhlak buruk. Demikian juga halnya bila pendidikan anak jauh dari norma-norma akhidah Islam, terlepas dari arahan religius maka tidak diragukan lagi bahwa anak akan tumbuh dewasa atas dasar kefasikan, penyimpangan, kesesatan dan kekafiran (Ulwan, 1981 : 175).
Dalam catatan sejarah yang menggambarkan kisah Fir’aun dengan Nabi Musa a.s serta Nabi Nuh a.s dan anaknya merupakan contoh nyata dalam kehidupan manusia. Dengan demikian jelaslah bahwa kedudukan anak dalam Islam adalah amanah Allah kepada orang tua. Ia akan menjadi permata hati atau cahaya mata yang menyenangkan orang tua dan masyarakat bila dibina dan dibesarkan dengan nilai-nilai akhlak yang mulia. Sebaliknya anak dapat pula menjadi ujian atau cobaan bahkan musuh bagi orang tua, manakala orang tua gagal dalam membina dan mendidik anak-anaknya sesuai dengan norma-norma agama Islam.

2. Tanggung Jawab Dalam Membina Akhlak
Berbicara masalah pembentukan atau pembinaan akhlak pada diri anak adalah identik dengan masalah tujuan pendidikan yang diinginkan dalam Islam. Karena ada beberapa para ahli pendidikan yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak, yang dilakukan melalui berbagai proses pembinaan secara bertahap. Dalam hal ini pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam (Al-Abrosyi, 1974 : 15). Atau tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya (Marimba, 1980 : 48-49).
Meskipun pembentukan dan pembinaan akhlak adalah sama dengan tujuan pendidikan dan tujuan hidup setiap muslim, ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa akhlak tidak perlu dibentuk atau dibina, karena merupakan “gharizah” yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Sementara pandangan yang lain mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan yang sungguh-sungguh, sehingga harus dibentuk.
Dalam kenyataannya, usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan seperti keluarga, sekolah dan masyarakat terus dikembangkan untuk membentengi anak dari pengaruh-pengaruh negatif yang dapat merusak kepribadiannya. Ini menggambarkan bahwa akhlak anak memang perlu dibina agar terbentuk pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada orang tua, sayang terhadap sesama makhluk Allah dan sebagainya. Sebaliknya anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan dan pendidikan pada akhirnya menjadi anak-anak yang nakal, melakukan berbagai perbuatan tercela yang dapat meresahkan masyarakat dalam kehidupan.
Walaupun pada hakekatnya pembinaan akhlak anak adalah tanggung jawab orang tua, akan tetapi anak adalah makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dengan teman, maka keberhasilan dalam usaha pembentukan kepribadian anak atau kegagalannya tidak terlepas dari tanggung jawab sekolah dan masyarakat yang mempengaruhi anak tersebut. Artinya bahwa kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi dalam keluarga, di sekolah dan dalam kehidupan masyarakat (Ancok, 2000 : 16). Untuk itu kewajiban utama bagi orang tua, guru dan tokoh masyarakat dalam pembinaan akhlak ialah memberikan keteladanan kepada anak secara baik dan benar dalam berakhlak mulia. Karena bagaimanapun pepatah mengatakan bahwa bahasa perbuatan adalah lebih fasih dari pada bahasa ucapan (lisan).
Nilai-nilai akhlak yang bersumber dari ajaran agama tidak akan tumbuh pada diri anak tanpa diajarkan dan dibiasakan. Oleh sebab itu ajaran agama, selain sebagai ilmu yang diajarkan secara bertahap, juga harus diikuti secara terus menerus dalam bentuk pengalamannya, baik di lingkungan rumah tangga, sekolah maupun masyarakat. Optimalisasi peran orang tua, guru dan tokoh masyarakat dalam memberikan kontribusi terhadap pembinaan akhlak sangat menentukan warna kepribadian anak dalam kehidupan sosial. Dengan demikian apabila seorang anak dibesarkan dengan bimbingan akhlak yang mulia dari orang tua dan masyarakat muslimpun memberikan dukungan, maka ia akan memiliki banyak sekali keteladanan untuk dicontoh, yang dapat membantunya tumbuh menjadi seorang muslim yang sempurna (Tarazi, 2001 : 165).

3. Dasar Pembinaan Akhlak
Islam adalah suatu agama yang mengajak manusia dari yang munkar ke arah yang ma’ruf, dari kebodohan kepada kemajuan. Seorang yang telah mengaku beragama Islam bukan secara otomatis menjadi manusia yang baik, tetapi harus melalui proses Islamisasi sepanjang hidupnya.
Menurut Islam, anak bagi orang tuanya adalah karunia sekaligus amanah dari Allah SWT. Dari segi psikologis maupun sosiologis anak menempati posisi yang sangat bernilai karena dapat menjadi hiasan bagi rumah tangga, sekaligus menghapus kesan negatif yang datang dari masyarakat terhadap mereka yang tidak mempunyai keturunan. Kesadaran akan anak sebagai amanah Allah, akan menumbuhkan motivasi daripada orang tua untuk selalu berusaha agar rumah tangga dapat memberikan sesuatu yang bernilai positif kepada anak (Buseri, 1990 : 31).
Secara praktis, anak harus mendapatkan asuhan, bimbingan dan pendidikan agar pada usia dewasanya akan menjadi manusia yang sesuai dengan harapan agama. Dengan demikian pentingnya pembinaan akhlak bagi anak dilandasi oleh beberapa hal, yaitu :
a. Dasar Religius
Keutamaan akhlak dan tingkah laku merupakan salah satu buah iman yang meresap ke dalam kehidupan beragama anak yang harus dibina secara dini. Bila anak sejak awal tumbuh dan berkembang dengan dasar iman kepada Allah, niscaya anak akan mempunyai kemampuan untuk menerima setiap keutamaan dan kemuliaan. Anak yang terbiasa dengan akhlak yang mulia akan mampu menghadapi gejolak kehidupan karena iman yang telah dimilikinya akan membentengi dirinya dari berbuat dosa dan kebiasaan jelek.
Apabila anak dibiarkan melakukan sesuatu yang kurang baik kemudian menjadi kebiasaannya, maka akan sukarlah untuk meneruskannya. Artinya pendidikan budi pekerti atau akhlak wajib dimulai dari rumah dan jangan dibiarkan tanpa pendidikan. Jika anak dibiarkan tanpa diperhatikan dan dibimbing, ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan kelak akan sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Untuk itulah Islam menganjurkan agar orang tua menjaga dirinya dan keluarganya dari siksaan api mereka, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimua dan keluargamu dari api neraka”.
Ayat lain dalam Al-Qur’an yang menganjurkan orang tua agar memperhatikan anak-anaknya dan melarang meninggalkan mereka di kemudian hari dalam keadaan lemah, sebagaimana terdapat dalam Surat An-Nisa’ ayat 9 :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Selain dari itu, Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra, dari Rasulullah SAW bersabda : “Diantara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan budi pekerti yang baik dan memberinya nama yang baik”.
Berdasarkan ayat dan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa agama sangat menganjurkan kepada orang tua, untuk mendidik dan membina anak-anaknya dengan budi pekerti atau akhlak yang mulia agar terhindar dari siksaan Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
b. Dasar Psikologi
Sepanjang hidupnya, manusia pada umumnya pasti melalui proses pengasuhan dari orang tuanya, paling tidak dalam jangka waktu tertentu. Sebab tidak mungkin seorang anak begitu dilahirkan langsung dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang atau orang lain. Para ahli ilmu jiwa mengakui bahwa anak mempunyai potensi untuk berkembang dan sangat besar ketergantungannya dengan orang lain terutama orang tuanya (Buseri, 1990 : 33). Dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian anak, ada tiga aliran ilmu jiwa yang memandangnya sebagai berikut :
1. Aliran Nativisme
Aliran ini dipelopori oleh Arthur Schopen Hauer (1788 – 1860), yang berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaan yang diperolehnya sejak anak dilahirkan (Ilyas, 1995 : 64).
Maksud dari pada aliran nativisme ialah anak sejak lahir sudah memiliki sifat-sifat tertentu secara hereditas yang menjadi kepribadiannya. Oleh karena itu pendidikan dan latihan apapun yang diajarkan kepadanya dari orang tua dan lingkungan di mana ia berada, tidak akan dapat merubah kepribadiannya dari jahat menjadi baik atau sebaliknya.
2. Aliran Emperisme
Menurut aliran ini, pembentukan kepribadian anak tidak ditentukan oleh pembawaannya sejak lahir sebagaimana aliran nativisme, tetapi tergantung pada pengalaman yang diperoleh anak selama hidupnya. Pelopor teori ini adalah Jhon Lock (1632-1704), yang terkenal dengan teori “tabula rasa”. (Ilyas, 1995 : 65).
Kesimpulan dari teori ini berpendapat bahwa usaha pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dan pengaruh lingkungan sosial tempat anak berinteraksi, dapat membentuk sikap dan perilaku anak tersebut sesuai dengan yang diinginkan.
3. Aliran Konvergensi
Teori ini mengawinkan teori nativisme dan emperisme dengan tokohnya William Stern (1871-1939). Dalam pandangannya aliran ini berpendapat bahwa baik pembawaan maupun lingkungan sama-sama berpengaruh terhadap hasil pendidikan anak (Ilyas, 1995 : 65).
Dalam pandangan Islam, anak dilahirkan dalam keadaan suci, bersih dan bebas dari segala dosa. Ia akan menjadi baik dan buruk tergantung kepada pendidikan atau lingkungannya, bukan tabiatnya yang asli atau bawaan. Adalah menjadi kewajiban orang tua, pendidik dan pemimpin lainnya yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengarahkannya kepada hal-hal yang baik serta menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh yang jelek.
Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa baik menurut pandangan Islam maupun ahli psikologi berpendapat bahwa anak bisa menjadi baik atau jahat, tergantung pada tabiat asli yang ia miliki sejak lahir dan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan di mana ia hidup. Sejauh mana kedua faktor tersebut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak tergantung pada situasi dan kondisi di mana anak itu mengalami proses pendidikan.

4. Pendekatan Dalam Pembinaan Akhlak
Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam membina akhlak dan kepribadian anak, dapat dilakukan tidak hanya melalui pengajaran yang bersifat kognitif tetapi juga dengan pelatihan dan pembiasaan perilaku praktis (Aly dan Munzeir, 2000 : 163). Dalam hal ini usaha dalam pemindahan nilai dan norma pendidikan yang akan diwariskan orang tua kepada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pengajaran, pelatihan dan indoktrinasi (Ali, 1998 : 180). Akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan dibiasakan (Rahim, 2000 : 6).
Beberapa pandangan di atas jelas sekali menunjukkan bahwa peran orang tua dalam membina akhlak anak dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain yang cukup berpengaruh ialah :
a. Pendekatan Keteladanan
Dilihat dari proses kronologis keberadaan manusia, pendidikan keluarga merupakan fase awal dan basis bagi pendidikan seseorang yang melekat pada setiap rumah tangga. Pendidikan pada fase ini sangat berpengaruh dan menentukan pendidikan selanjutnya. Keluarga adalah lembaga masyarakat yang memegang peranan kunci dalam proses sosialisasi. Orang tua dan seluruh anggota keluarga adalah hal yang penting bagi proses pembentukan dan pengembangan kepribadian (Buseri, 1990 : 4).
Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, instruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan tidak cukup dengan perintah dan larangan kata-kata. Menanamkan sopan santun memerlukan pembinaan yang panjang dengan pendekatan yang lestari. Pendidikan (akhlak) tidak akan sukses melainkan dengan disertai pemberian contoh teladan yang baik darinya (Al-Ghazali, 1992 : 190-191).
Pembinaan akhlak dengan cara keteladanan ini telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai misi utamanya dalam menyempurnakan akhlak mulia, sebagaimana dalam surat Al-Ahzab ayat 21 Allah berfirman : “Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan (keridhaan) Allah dan (berjumpa dengan-Nya) di hari kiamat dan selalu banyak menyebut nama Allah”.
Ada dua faktor utama yang menimbulkan gejala penyimpangan moral di kalangan anak, yaitu keteladanan yang buruk dan pergaulan yang rusak (Ulwan, 1981 : 186). Untuk itulah orang tua wajib memberikan keteladanan yang baik dan membatasi anak-anak agar tidak bergaul dengan teman-temannya yang nakal, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang. Perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari harus menjadi panutan dan rujukan moral anak-anak. Apa yang dihayati sebagai ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan nyata (Buseri, 1990 : 55).
b. Pendekatan Pembiasaan
Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan Akhlak dapat pula dilihat dari perhatian terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik pula. Namun demikian, jiwa yang baik ini tidak akan memantulkan perilaku yang baik pula kalau tanpa dilatih secara terus menerus sehingga menjadi adat kebiasaan.
Pendekatan pembiasaan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang kurang baik dalam rangka membentuk akhlakul karimah (Depag, 1996 : 3). Apabila anak dibiasakan dan diajarkan dengan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan pula. Tapi jika dibiasakan dengan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa (Al-Hasan, 1997 : 11).
Dalam kenyataannya sering kita jumpai anak yang makan atau menulis dengan tangan kiri kemudian disarankan untuk makan atau menulis dengan tangan kanan akan sulit dia lakukan karena semua aktivitas yang dilakukannya telah terbiasa dengan tangan kiri. Demikian pula kalanya dengan perilaku anak dalam kehiupan sehari-hari, sehingga orang tua mempunyai peranan penting dalam membiasakan anak dengan nilai-nilai akhlakul karimah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: