Masih Relevankah Pancasila sebagai Ideologi Negara?


Masih Relevankah Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia?

Oleh :  Vivi C. Tamolung*

TulisanVivi Tamolung ini merupakan salah satu tugas Pendidikan Kewarganegaraan yang diberikan oleh guru bidang studi bapak Hadi Kammis, SH pada kelas XII semester 1. Tujuan dari tugas ini adalah untuk membuka wawasan kenegaraan kami sebagai generasi bangsa Indonesia tentang Ideologi Negara yang kami cintai ini. Bermula dari banyaknya arus radikal yang masuk ke dalam tubuh bangsa ini maka tugas ini memberikan satu motivasi tersendiri bagi kami tentang bagaimana pendapat masyarakat di kota Kalabahi tentang Pancasila sebagai ideologi bangasa ini.

Di bawah ini adalah cuplikan hasil wawancara kami dengan salah satu narasumber kami Bupati Alor, Drs. Amon Djobo.

“Pancasila Sebagai Dasar Negara dan menjadi pandangan hidup Bangsa, Pancasila juga masih sangat pantas dan sangat relevan sebagai dasar negara karena Pancasila sangat sesuai dengan kebudayaan dan kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI ini, sesuai dengan sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, kita hidup di Indonesia tentu diharuskan mempunyai kepercayaan masing-masing, pada dasarnya semua agama sama, sama-sama menyembah kepada Tuhan, intinya kalau beribadah masuk surga kalau tidak ya jelas di neraka, sangat sederhana. Begitu pun sila kedua sampai sila kelima sangat-sangat relevan dan pantas. Mengenai keadilan ini, kita pandang dari segi mana dulu, kalau saya dari segi hukum ya jelas, selama ini negara sudah cukup adil kepada seluruh rakyatnya, mengenai bantuan yang tak tersalurkan, itu kan kembali kepada pribadi Kepala Daerah itu sendiri bagaimana. Jadi sudah cukup jelas ya, bahwa Pancasila itu masih sangat relevan dan pantas sebagai dasar negara kita ini yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Di akhir pertemuan beliau menyampaikan bahwa “Semua kekeliruan, kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam penyelenggaraan negara ini bukanlah merupakan kesalahan Pancasila tapi itu merupakan kesalahan aparat penyelenggara negara sehingga aparatlah yang harus “diperbaiki” bukan Pancasilanya yang harus digantikan, sama halnya ketika seseorang melanggar ajaran kitab suci tentu perilaku orang tersebut yang harus diperbaiki bukan kitab sucinya kita perbaiki”.

 Laporan hasil wawancara dapat download disini Laporan PKN

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: