Mendidik Dimulai dari Memberi Makan yang Halal


Alkisah. Seormakan-anak-300x194.jpgang pemuda berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang sedang mengapung di air. Buah itu tinggal separuh, seperti bekas gigitan kelelawar. Tanpa berpikir panjang pemuda itu langsung memakan buah delima itu.

Namun beberapa saat setelah ia memakan buah itu, ia merenung. Apakah buah yang ia makan itu halal? Bukankan buah itu bukan miliknya? Apakah orang yang memiiki buah itu ikhlas jika buah delimanya ia makan?

Pemuda itu kemudian berjalan berlawanan dengan aliran air sungai. Ia bermaksud mencari pohon delima yang berada di dekat sungai. Barangkali buah itu jatuh dari pohonnya yang berada di dekat sungat dan ia bermaksud menemui pemilik pohon itu.

Setelah berjalan beberapa saat lamanya ia akhirnya menemukan pohon delima di dekat sungai. Tidak jauh dari pohon itu, terdapat rumah. Ia mengucap salam dan kemudian seorang laki-laki setengah baya menemuinya.

“Tuan apakah pohon delima itu milik Anda?” kata pemuda itu.

“Iya Benar. Memangnya kenapa?” kata pemilik rumah.

“Aku menemukan buah delima milikmu dan aku memakannya. Padahal buah itu bukan milikku. Aku mohon engkau sudi mengikhlaskannya?”

Lelaki setengah baya itu diam sejenak lalu berkata. “Baik aku mengikhlaskan buah itu kau makan. Tapi ada satu syarat.”

Pemuda itu senang. “Baik. Terimakasih. Tapi apakah syaratnya?”

“Kau harus menikahi putriku.”

Pemuda itu terkaget dan diam sejenak. Tapi sebelum ia menjawab, lelaku setengah baya tadi meneruskan kalimatnya.

“Tapi putriku itu buta, tuli dan bisu?”

Pemuda yang memakan delima itu pun terdiam.

“Silakan dipikirkan lebih dulu,” kata lelaki setengah baya sambil meminta pemuda itu pulang. Namun pemuda itu tidak mau pulang.

“Baik Pak. Saya mau menikahi putrimu demi kekhalalan delima yang sudah aku makan,” katanya.

Beberapa hari kemudian pemuda itu dinikahkan dengan seorang gadis yang sangat cantik dan nyaris sempurna. Ketika melihat pengantin putri pemuda itu pun menolak.

“Anda mengatakan, gadis yang aku nikahi itu buta, tuli dan bisu?” kata pemuda itu kepada lelaki yang juga ayah dari gadis yang akan dinikahinya.

Ayah gadis itu menjawab sambil tersenyum. “Buta maksudnya, mata anak gadisku tidak pernah melihat hal-hal yang maksiat. Tuli maksudnya, telinga anak gadisku tidak pernah digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang diharamkan. Dan bisu maksudnya, mulut anak gadisku tidak pernah digunakan untuk mencela, bergosip dan memfitnah orang lain.”

Demikianlah perjalanan seorang pemuda dalam memperoleh setengah buah delima yang halal.

Siapa sebenarnya pemuda itu? Pemuda itu tidak lain adalah ayah dari Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang dikuti jutaan umat Islam dari seluruh dunia.

Pesan yang ingin disampaikan dari kisah hikmah ini adalah pentingnya menjaga perut kita dan anak-anak kita dari makanan yang tidak halal. Halal itu bisa dimaksudkan sebagai dzat makanan itu sendiri atau cara mendapatkan makanan itu.

Makanan yang halal dan didapatkan dengan cara yang halal adalah permulaan bagaimana kita bisa mewujudkan generasi yang cerdas dan shalih. (A. Khoirul Anam)

Sumber : Pendidikan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s