Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah


Media Pembelajaran Digital dan Islam Damai di Sekolah

Di era digital seperti sekarang, generasi manusia dapat digolongkan ke dalam dua kelompok. Pertama, Digital Immigrant, yaitu kelompok yang sedari lahir tidak ada internet kemudian saat aktif di dalamnya. Kedua, Digital Native, yaitu orang yang sedari lahir sudah ada internet. Persamaan dari kedua kelompok dapat dipahami bahwa mereka akhirnya sama-sama menggunakan internet untuk ‘kebutuhan’ interaksinya di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media informasi yang semakin pesat, pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri. Semisal dapat memanfaatkan era digital ini sebagai media pembelajaran bagi siswa di madrasah dan sekolah, bahkan pesantren. Akses informasi di era digital ini memungkinkan siswa lebih mengetahui informasi terlebih dahulu ketimbang guru. Tentu hal ini tidak akan membuat guru menjadi ketinggalan dibanding siswanya, karena keberadaan guru di kelas dan lingkungan sekolah lebih kepada memfasilitasi siswa untuk belajar.

Dalam ilmu pedagogik, belajar dapat didefinisikan merupakan sebuah perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Tingkah laku di sini bukan hanya berarti kemampuan siswa secara afektif, tetapi juga kemampuan siswa dari sisi kognitif dan psikomotorik. Di titik inilah, guru yang bisa dikatakan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi siswa, yaitu membimbing siswa agar belajar memanfaatkan penggunaan internet ke arah yang lebih positif untuk keperluan belajar di sekolah.

Dengan kata lain, Digital Immigrant ada untuk membelajarkan para Digital Native agar dapat memanfaatkan internet sebagai media meningkatkan kualitas belajar siswa. Dalam hal ini, guru juga dituntut mengikuti perkembangan arus informasi di era digital melalui kanal-kanal media sosial, misalnya. Dalam kanal inilah, siswa dapat diarahkan untuk membentuk kelompok belajar secara berkesinambungan karena kanal media sosial tidak terbatas ruang dan waktu.

Namun demikian, media sosial atau media lain di dunia maya hanyalah alat (instrumen) bukan tujuan. Artinya, alat tidak bisa menggantikan posisi guru. Sebab alat tidak mempunyai sisi humanitas (kemanusiaan). Oleh sebab itu, kehadiran guru secara emosional sangat penting untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaan seorang siswa.

Melalui media pembelajaran digital, tangkal paham radikal

Euforia media sosial yang saat ini hampir pasti dipunyai oleh setiap individu, menuntut guru agar lebih memahamkan kepada siswa akan arti positif media sosial dan hadirnya ribuan portal-portal berita. Apalagi saat ini, tak sedikit yang memanfaatkan internet untuk menumbuhkembangkan paham-paham yang meresahkan di tengah masyarakat. Hal ini penting menjadi perhatian guru, karena selama ini paham-paham tersebut sangat gencar menyasar anak-anak muda usia sekolah.

Keterbukaan dan luasnya informasi publik yang didukung oleh perkembangan teknologi berdampak pada mudahnya aksesibiltas. Dengan kondisi demikian, guru tidak bisa sekadar acuh tak acuh apalagi sangat terkait dengan perkembangan para siswanya. Melihat perkembangan paham radikal yang terus berusaha menyasar anak usia sekolah, guru dan pihak sekolah harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para siswanya. Wahana seperti Rohis (kerohanian Islam) sebagai ekstrakurikuler jangan dibiarkan liar, justru wadah ini harus dimanfaatkan oleh guru untuk menanamkan pemahaman keagamaan yang baik dan benar, menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan tidak menebarkan kebencian.

Pada akhirnya, era digital menyadarkan dunia pendidikan akan arti penting sebuah inovasi yang harus terus menerus dikembangkan. Dunia pendidikan tidak perlu anti terhadap siswa yang saat ini gandrung dengan media sosial. Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi media sosial di era digital ini agar pembelajaran di kelas lebih berkualitas. Lagipula, media pembelajaran yang ramah dan damai dapat dikembangkan melalui perkembangan dunia digital.

Media seperti ini sudah dibuat dan diterapkan oleh The Wahid Institute dengan menciptakan instrumen ‘Negeri Kompak’. Dalam media pembelajaran ini, anak-anak dididik tentang keberagaman Indonesia yang harus ditopang dengan saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan dan kemajemukan. Dalam media ini, anak-anak tertarik karena dikemas secara apik dan menarik dalam bentuk visualisasi aktif. Artinya, tak hanya berupa gambar, tetapi juga berbagai keterangan yang tersemat di dalamnya.

Di era digital seperti sekarang, berbagai media serupa dapat diciptakan guna mengisi dunia digital atau dunia maya dengan pemahaman keagamaan yang baik demi keutuhan bangsa. Jangan membiarkan dunia maya didominasi oleh gambar, video, maupun narasi-narasi ekstrimis, melainkan dunia pendidikan dan masyarakat harus berperan aktif mengisi dunia maya dengan narasi-narasi positif terkait paham keagamaan dan kebangsaan dengan berbagai media. Media-media digital inilah yang dapat dimanfaatkan juga oleh guru. Selain menarik, juga sangat interaktif karena semua siswa mempunyai passion dengan berbagai media sosial dewasa ini.***

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Sumber : http://www.pendidikanislam.id/fikrah/1069/media-pembelajaran-digital-dan-islam-damai-di-sekolah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: