Merajut Kerukunan yang Hampir Sirna


dsc_0055MAN Kalabahi – Kemerdekaan Indonesia diraih dengan semangat persatuan yang tertanam dalam jiwa patriotisme pemuda Indonesia, sumpah setia yang dideklarasikan oleh para pemuda 1928 dengan berbagai etnis dan latar belakang budaya dan agama yang disertai dengan semangat persatuan yang tinggi telah menjadikan Indonesia menjadi Macan Asia, negara yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lain.
Dengan semangat persatuan Indonesia pun telah banyak menoreh nama besar dalam percaturan politik regional maupun internasional, Indonesia pun diakui sebagai negara yang berhasil dalam upaya pemajuan, perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia, salah satunya perlindungan hak-hak minoritas. Walaupun Indonesia adalah negara pluralis, negara yang terdiri dari beranekaragaman etnis, suku, ras, bahasa, agama, budaya, dan adat istiadat, namun didalam keanekaragaman tersebut Indonesia mampu menciptakan kerukunan dalam kebhinnekaan yang menjadikan sebagian lainnya merasa bangga, bahkan iri dan dengki.
Hal ini harus diwaspadai, bahwa kebanggaan dan kedengkian tersebut dapat menjadi sebuah ancaman besar dalam kelanjutan keanekaragaman bangsa saat ini. Berbagai cara akan digunakan oleh para pendengki untuk menghancurkan Tanah Tumpah Darah yang kita cintai ini. Dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial berbagai kelompok berupaya merongrong persatuan bangsa yang solid ini. Isu perbedaan etnis, budaya, ras, dan agama yang seharusnya dijadikan simbol kebanggaan dan kekuatan bangsa mereka jadikan sebagai alat pemecah belah persatuan yang telah ditata rapih oleh para pendiri negara, harapan mereka Indonesia lemah dan tujuan politik merekapun tercapai. Padahal hakekatnya bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang pluralism, dengan berbagai macam jenis perbedaan, jenis kelamin, suku bangsa, bahasa dan agama dengan tujuan agar manusia saling mengetahui, mehamahi, dan memenuhi kebutuhan hidup antara satu dengan lainnya (QS. Al Hujurat ayat 13).
Fenomena saat ini menggambarkan bahwa semangat nasionalisme dan patriotisme sebagian pemuda saat ini sangat jauh berbeda dengan semangat pemuda pada masa lampau. Melalui berbagai media sosial mereka menjadikan perbedaan sebagai jalan untuk mencapai kepentingan politik para pendengki, sampai-sampai agama yang sakral pun dijadikan umpan untuk memancing kepentingan mereka. Merasa diri paling benar, merasa budayanya paling pantas, merasa agamanya paling benar, dan merasa daerahnya paling makmur menjadikan mereka lupa bahwa setiap kita menanggung kewajiban membela negara (pasal 30 UUD 1945), setiap budaya daerah merupakan budaya nasional (pasal 32 ayat 2 UUD 19945), setiap ajaran agama mengajarkan tentang kebaikan (pasal 29 UUD 1945), dan setiap daerah dengan SDA-nya merupakan kekayaan nasional (pasal 33 ayat 1-5 UUD 1945).
Fenomena ini harus menjadikan kita berbenah. Pemerintah berbenah, perwujudan kesejahteraan sosial harus dilakukan secara transparan tanpa membeda-bedakan, Aparat penegak hukum harus jujur, adil, konsisten dan konstitusional dalam penegakkan hukum, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan harus menjadi teladan baik bagi generasi muda bangsa, dan para pendidik harus menanamkan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa setiap siswa, siswa sebagai pemuda mendatang dan pemimpin masa depan harus memiliki jati diri dan rasa bangga dari sebuah bangsa yang besar. Siswa harus diajarkan tentang etika pergaulan khususnya dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi sosial, siswa harus ditanamkan semangat membela negara sesuai dengan apa yang diajarkan oleh nilai-nilai ajaran agama, “mencintai tanah air adalah bagian daripada kualitas keimanan seseorang”, dan siswa pun harus diingatkan bahwa setiap agama mengajarkan akan kasih sayang dan semangat toleransi yang sangat tinggi. Kualitas diri seseorang tidak akan sempurna jika tidak didukung dengan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dengan tanggungjawab tersebut, kita akan memperoleh pemuda yang berkualitas pemuda 1928, dan kita pun akan memperoleh para pemimpin yang semangat nasionalisme dan patriotnya selayak semangat para pendiri NRKI, kelangsungan negara berada di tangan kita sendiri. *** (Hadi Kammis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: